UGM itu ekskalator. Di UI mahasiswa biasanya datang dari orangtua dengan golongan somebody. Namun UGM adalah tempat bagi mahasiswa yang awalnya bukan siapa-siapa lalu menjadi somebody” -Anies Baswedan-
Arti kalimat itu tidak saya sadari ketika saya memutuskan untuk menuntut ilmu di kampus ini, melakukan daftar ulang segera setelah saya dinyatakan diterima. Bahkan ketika si pemilik kalimat itu, Anies Baswedan, mengatakannya langsung dalam wawancara khusus kepada reporter Equilibrium, majalah yang satu tahun saya pimpin, saya masih tidak tahu betapa benarnya kalimat itu. Saya nyaris memotongnya dan tidak memuatnya. Bukan karena beliau menyebut universitas lain, namun juga karena pada waktu itu, secara pribadi saya masih menyangsikan statement tersebut. Sebagai pimpinan redaksi yang bertanggung jawab atas segala kata yang dieja dan persepsi yang ditimbulkan pada setiap artikel yang naik cetak, saya harus teliti dan hati hati memilih kata dari narasumber yang ditulis oleh redaktur. Memutuskan mana yang naik cetak mana yang harus direlakan mendekam di hardisk si Patty, komputer tua milik Equilibrium. Tapi nyatanya, setelah 4 tahun bersekolah disini, saya sadar Anies Baswedan benar.
BELAJAR
Minggu pertama saya memulai status saya sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Ilmu Ekonomi saya segera menyadari hal terbaik : bisa ketemu dengan orang –orang yang sebelumnya hanya bisa saya lihat di TV atau saya baca artikelnya di koran. Bagaimana tidak, saya bisa saja sedang berlari lari dikoridor mengejar kelas berikutnya mendadak berpasapan Anggito Abimanyu sedang menikmati music lewat Ipod sambil berjalan menuju kelas atau berada dalam satu antrian di kasir kantin dengan Sri Adiningsih . Seminggu sekali saya bisa mendengarkan Toni Prasentyanto mengajar dengan gaya menyenangkan dikelas, padahal kabarnya Metro TV saja harus menunggu 4 bulan jika akan mengundang beliau untuk menjadi narasumber di program program berita mereka. Setiap sabtu saya dan juga semua orang di kampus bisa menemukan Boediono yang duduk dibawah pohon, dikelilingi mahasiswa-mahasiswa, sedang melakukan diskusi kelas. Saya bahkan pernah nyaris menabrak kijang kapsul yang beliau kendarai sendiri, tanpa sopir, padahal waktu itu beliau menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia. Luar biasa.
Lahir di keluarga Katolik- Jawa dan sebagai anak bungsu membuat saya tidak terlalu ambisius. Saya selalu ditekankan untuk melakukan sesuatu dengan tulus dan mengedapankan tepo sliro, cinta kasih, dan kebermanfaatan bersama dibandingkan kepentingan pribadi. Sebagai anak bungsu saya juga tidak punya beban tanggungan untuk bisa menjadi contoh bagi yang lebih muda. Saya terbiasa melakukan apa yang saya suka, yang tidak saya suka akan saya beri lambaian tangan selamat tinggal. Selalu berada di sekolah sekolah terbaik dengan persaingan akademis yang mematikanlah yang membuat saya harus menjaga prestasi akademis saya tetap berada di tingkat ‘aman’, suka atau tidak suka. Saya tidak menonjol di semua kelas. Sifat alami saya yang sesesukanya ternyata cukup dominan ketika saya menjalani kehidupan akademis saya di kampus (bukan hal baik untuk dicontoh), namun saya selalu menekuni dengan serius di kelas kelas dan bidang-bidang yang saya suka. Mengerjakan tugas-tugas dengan tulus, karena saya senang. Saya selalu berusaha outstanding dikelas. Bertanya bukan karena ingin di kelas atau dikenal dosen, tapi karena saya memang penasaran. Saya selalu heran kepada teman-teman saya yang mengejar IPK sempurna hanya karena orang lain ber IP 4 atau mati-matian menulis di untuk jurnal nasional hanya karena orang lain telah melakukannya. Prinsip semacam itu tak pernah terpikirkan oleh saya. Saya belajar karena suka, saya menulis karena saya cinta menulis. Meski tidak menonjol di semua kelas, ketulusan saya dalam menjalani kehidupan akademis saya berbuah juga. Beberapa dosen mengajak saya bergabung ke project- project riset mereka. Sejak semester empat, saya sudah terbiasa menjadi asisten riset. Dari sanalah ketertarikan saya dalam dunia riset dimulai. Selain secara finansial menguntungkan, saya juga bisa berkesempatan mengunjungi pulau-pulau lain di Indonesia. Saya menyebutnya: bekerja bonus belajar dan jalan-jalan. Saya terus membantu riset riset dosen hingga akhirnya saya bisa melakukan riset saya sendiri ketika saya
memenangkan grant pendanaan riset untuk mahasiswa dari Fakultas yang bekerjasama dengan Bank Dunia. Jumlah grant-nya memang tidak banyak, tapi cukup besar untuk periset pemula seperti saya. Riset dan tulisan bagi saya sampai saat ini adalah media yang paling menyenangkan untuk mengaktualisasikan kemampuan akademis sekaligus
berbagi ilmu dengan orang lain.
BERMAIN
Dunia jurnalistik adalah dunia yang saya pilih pertama kali untuk aktivitas kampus saya disamping kuliah. Saya bergabung dengan Equilibrium, Badan Penerbitan dan Pers Fakultas Ekonomika dan Bisnis, tepat ketika masa orientasi berakhir. Jurnalistik adalah sesuatu yang saya tekuni dengan serius sejak masih duduk dibangku SMP. Lagi-lagi benar kata orang, menekuni apa yang kita suka dengan serius, meski hanya untuk tujuan kesenangan, selalu tak pernah ada ruginya. Semuanya berjalan secara simultan. Ketika akan menulis saya terpaksa harus membaca. Menulis dan membaca membuat saya terlatih untuk membuat kalimat yang terstruktur dengan baik. Ini
sangat membantu saya untuk presentasi dikelas, mengerjakan esai untuk tugas –tugas mingguan, dan bahkan tugas akhir. Kebiasaan menulis juga mendorong saya untuk mengikuti berbagai lomba penulisan yang sama sekali tidak berbau ekonomi.
Berkat beberapa kali memenangkan lomba jurnalistik, beberapa tulisan dimuat dikoran, dan tentu saja menjadi nahkoda redaksi Equilibrium selama satu tahun, saya sering diundang ke berbagai forum-forum mahasiswa entah itu sebagai moderator atau pembicara . Serunya, saya beberapa kali bisa memiliki kesempatan berbicara satu podium dengan jurnalis jurnalis handal, seperti Pimpinan Redaksi Tempo Bambang Harimurty, Direktur Pemberitaan Metro TV Suryo Pratomo, Dirut SDM tempo Torig Hadad, dan anchor seperti Prabu Revolusi dan Bayu Sutiyono. Senang rasanya bisa mengenal sedekat itu dengan mereka, berdiskusi, dan menjalin hubungan sampai sekarang, ketika mungkin mahasiswa lain hanya bisa mengenal melalui televisi atau membaca tulisan mereka di media cetak. Selain memperluas jaringan, saya akui itu memperdalam kemampuan saya berbicara di depan publik. Oh ya , saya juga jadi punya sederetan plakat hasil kenang-kenangan menjadi pembicara di kamar. Sederet fans? Ahaha hitung saja itu sebagai bonus!
Setelah kepemimpinan di Equlibrium berakhir, saya diminta untuk memimpin Departemen Intelektual Himiespa (Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi). Jabatan baru ini mengharuskan saya untuk mendalami isu- isu ekonomi terbaru lebih keras dibandingan teman-teman yang lain, karena tugas saya adalah mengadakan diskusi diskusi, seminar dan mempublikasikan tulisan terkait ekonomi. Namun semuanya tidak sia-sia, karena terbiasa dengan isu ekonomi saya selalu siap kapan saja untuk berdiskusi atau membuat tulisan tentang isu –isu ekonomi
terkini. Saya kerap menjuarai lomba-lomba karya tulis yang diadakan universitas lain. Saya juga sempat mendapat peringkat ke tiga dalam ajang pemilihan Young Economist Icon yang diadakan Institut Pertanian bogor. Karena terbiasa pulalah, esai saya tentang kerjasama ekonomi wilayah Asean lolos seleksi dan saya berangkat mewakili fakultas untuk acara Asean Student Summit Chulallangkorn University International Conference di Bangkok, Thailand awal tahun 2010. Oh ya satu lagi, beratnya beban akademis dan padatnya jadwal kegiatan diluar kuliah tidak bisa menjadi halangan bagi saya untuk terus untuk mengembangkan diri. Bersama 10 teman yang lain, saya berkesempatan menengok negeri China dengan dana keroyokan dari Direktorat Kemahasiswaan UGM, Diretorat Perguruan Tinggi Kementrian Republik Indonesia dan Bank Mandiri. Kami berangkat untuk mengikuti Asian International Model United Nation (AIMUN) yang diadakan di Peking University pada musim gugur tahun 2009. Ini bukan hanya
pembelajaran tentang bagaimana memahami dunia secara lebih luas, namun ini juga tentang kesenangan, kegilaan, dan pemahaman atas diri masing-masing. Sampai sekarang saya masih sering merindukan teman-teman satu tim AIMUN 2009 ini. Memang, hal yang paling saya sukuri dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswa adalah saya selalu bisa menyeimbangkan antara belajar, bekerja, dan bersenang-senang. Dan saya pikir, ini perlu diusahakan bagi siapa saja yang ingin menjalani kehidupan kampus dengan bahagia.
MELOMPAT DI UDARA
Saya percaya hidup terdiri dari lompatan lompatan. UGM juga memberi kesempatan saya untuk terus melakukan lompatan. Bisa pergi keluar negeri, melakukan penelitian sendiri dan merasakan hidup di pulau paling ujung negeri ini. Bagi saya, lompatan tertinggi selama saya di UGM adalah ketika saya melakukan KKN di Sorong Selatan. Iya, di sudut timur negara ini, di sebuah kabupaten yang hanya bisa dicapai dengan menyeberangi bukit dan hutan lebat. Setelah 6 bulan menyiapkan keberangkatan , bersama 20 mahasiswa lain yang semuanya berkarakter campuran gila, pintar, dan multi talenta kami menjejalkan diri bersama over baggage seberat 500 kilo untuk 21
orang, berliter-liter lotion anti nyamuk, dan berton-ton kenekatan dalam pesawat termurah yang bisa kami temukan demi menghadang 8 jam perjalanan udara dan 6 jam perjalanan darat yang berbahaya. Benar, tepat disana, Sorong Selatan. Bukan ketika saya di Beijing, Bangkok, Bogor, Jakarta, Aceh, Samarinda dan kota- kota lain pernah saya kunjungi. Saya ingat betul darimana pemahaman ini datang.
Suatu pagi, tidak kurang 40 anak dalam kelas 8B SMP 2 Teminabuan meneriakkan yel “saya!saya!saya!pasti bisa!”dengan semangat. Kelas dengan bangku tua dan tembok kusam itu sedikit bergetar, termasuk hati saya. SMP 2 Teminabuan adalah sebuah SMP negeri di jantung kota kabupaten Sorong- Selatan, Propinsi Papua Barat. Yel heroik “saya!saya!saya!pasti bisa! Sengaja saya berikan ketika pada pertemuan pertama saya menemukan sedikit sekali siswa yang berani mengangkat tangan saat diberi pertanyaan. Bahkan, kadang menyebut nama mereka saat perkenalan pun dilakukan dengan suara pelan, kepala tertunduk , dan senyum malu-malu.
Saya tertegun untuk kedua kalinya, saat seluruh kelas bahkan tidak mengetahui arti coconut dalam bahasa Indonesia. Saya memahami dengan cepat, murid-murid yang saya hadapi tidak hanya memilki masalah kepercayaan diri tetapi juga kurangnya kemampuan akademik untuk ukuran anak-anak kelas 8 . Dalam perjalanan pulang dengan berjalan kaki setelah satu jam pertama mengajar, saya berusaha mengingat bagaimana saya dan teman-teman saya saat seumuran mereka, berada di kelas 8. Pertama, coconut tentu saja bukan kosakata bahasa Inggris yang baru, meskipun SMP saya terletak di desa kecil sebelah selatan Yogyakarta. Saya dan lebih dari separuh angkatan sudah lancar menulis sebuah paragraf dalam bahasa Inggris apalagi anak-anak SMP lain yang bersekolah di kota. Keberanian teman-teman saya dalam menjawab pertanyaan bahkan cenderung mengerikan. Masih segar di ingatan saya bagaimana teman-teman saya bersaing untuk mengangkat tangan, bertanya, menjawab, dan menyediakan diri untuk maju ke depan kelas mengerjakan soal demi simpati dari guru dan kebanggaan diri diantara murid yang lain. Saya berada ditahun ketiga bangku kuliah saat ini, jadi saya berada di tingkat 8 sekolah menengah 9 tahun lalu.
Ini berarti kondisi anak-anak disini sekarang jauh lebih buruk dari keadaan pendidikan di Jawa 9 tahun lalu. Bagaimana jika dibandingkan dengan anak-anak lain saat ini? Bukankah mereka sudah tertinggal sangat jauh? Saya rasa diperlukan lari sprint untuk mengejarnya. Pendidikan memang tidak pernah merata di negara ini, namun standar kelulusan merata dimana-mana,saya tidak bisa membayangkan bagaimana mereka mengerjakan soal UAN saat kelas tiga nanti. Mereka mendapat beban yang sama dengan fasilitas yang berbeda jauh. Saya bukannya pesimis dengan kemampuan anak-anak Papua, mereka adalah anak yang penuh semangat dan perhatian dengan hal-hal baru, namun bagaimana mereka bisa berkembang dengan baik jika separuh jam belajar mereka selama seminggu merupakan jam kosong karena tidak ada guru? Bagaimana mereka bisa mengenal dunia ketika tidak ada sepotong peta pun di dinding? Bagaimana mereka bisa tahu kosakata dalam bahasa inggris jika tidak ada satupun buku berbahasa Inggris bahkan kamus? Itulah profil umum sekolah-sekolah di kabupaten kecil di papua, tidak ada fasilitas pendidikan yang memadai, tidak ada sistem belajar-mengajar yang baik, dan selalu kekurangan guru. Anak-anak bersemangat itu mendapat beban yang sama dengan anak-anak di kota yang lebh maju namun dengan fasilitas yang tertinggal jauh.
Rasanya saya ingin mengajar selamanya disana, menempel dinding kelas dengan peta dunia dan gambargambar yang mengisnpirasi, mendatangkan ribuan buku, dan menjaring guru-guru yang sekualitas guru-guru di kota-kota besar. Beberapa tahun terakhir sistem pendidikan dasar dan menengah negara kita tidak lagi bersifat sentralistik namun dirancang secara desentralistik, meski pemerintah masih tetap memegang kebjakan umum, dan tetap
memusatkan pengaturan agama, keuangan dan hukum. Perubahan arah kebijkan pendidikan dari sentralistik ke desentralistik dinilai bisa menjadi salah satu peluang yang cukup kondusif bagi terciptanya pendidikan yang lebih baik. Kabar gembira juga datang di akhir tahun 2008 karena pemerintah memutuskan untuk menggratiskan biaya pendidikan dari tingkat dasar hingga menengah.
Keputusan ini Ini terdengar menggugah ditelinga saya yang menjujung tinggi pendidikan. Menggembirakan dan menyemangati seluruh anak pelosok negeri yang tidak mampu untuk bersekolah. Namun datang ke Papua, membuat saya sadar, bahwa teman-teman baru saya itu tidak sekedar membutuhkan sekolah gratis . Mereka dan seluruh anak di pelosok Indonesia ini membutuhkan apa yang disebut pendidikan yang berkeadilan. Kadang-kadang pendidikan berkeadilan tidak memerlukan pendidikan yang gratis. Jika boleh memilih, saya lebih suka system pendidikan yang terjangkau dan berkeadilan. Pendidikan berkeadilan bukan topik baru, terutama ketika salah satu partai politik mengusung topik itu sebagai salah agenda utamanya. Mendadak pendidikan berkeadilan dibicarakan, tentu saja menghilang setelah masa kampanye berakhir. Prof Suyatno, salah satu pakar pendidikan terbaik kita pernah mengatakan Dalam bidang pendidikan, keadilan memiliki nilai yang mungkin tidak persis sama dengan konteks institusi sosial yang menegaskan keseimbangan sebagai bentuk apresiasi nilai keadilan. Dunia pendidikan memiliki apresiasi sendiri dalam memaknai keadilan. Dunia pendidikan menjembatani paradoks-paradoks yang memberikan nilai sama pada keseimbangan berdasarkan kebutuhan-kebutuhan yang bersifat logis, pragmatis dan berorientasi pada semangat kompetisi untuk menciptakan nilai yang lebih berkualitas dan unggul. Konkretisasi nilai keadilan dalam konteks pembangunan pendidikan pada gilirannya melahirkan semangat inovasi dan keinginan-keinginan untuk menciptakan nilai dan menciptakan perbaikan-perbaikan yang lebih bersifat terbuka. Sebelum datang ke Papua dan melihat sendiri minimnya fasilitas intelektual anak-anak pedalaman saya akan terpukau dan jika berada di dunia Facebook saya mengklik tombol ‘like this’ berkali-kali atas tulisan itu. Namun sekarang saya tidak akan memaknai pendidikan berkeadilan serumit itu.
Pendidikan berkeadilan bagi saya adalah bagaimana seluruh anak di Indonesia, tidak peduli dimanapun berada mendapat fasilitas intelektual yang sama pada tingkat stndar yang dibutuhkan anak sekolah; buku-buku, alat peraga, guru yang berkualitas,alat bermain untuk merancang kreativitas, dan sarana olahraga. Pendidikan bisa dikatakan adil bagi saya, tidak melulu soal pendidikan yang gratis, namun bagaimana seorang anak bernama Omega Theisa di ujung papua membaca buku yang sama dengan entah itu Cut Siti di Aceh, Kadek di Bali, Bambang di Jawa, Andre di Jakarta, Andi di Sulawesi dan Sitorus di Sumatra. Lewat hutan Moswaren, anak-anak Teminabuan , kelas tanpa peta, saya selalu seperti ditampar, betapa tidak bertanggung jawabnya saya . Saya selalu punya kesempatan untuk bersekolah di tempat tempat terbaik, guru guru terbaik, dan fasilitas terbaik, namun tidak terhitung berapa kali saya bolos, tidak serius mengerjakan tugas, bahkan saya sibuk memaki sistem pendidikan yang saya jalani. Padahal dibelahan lain, ada banyak siswa siswa bersemangat yang harus belajar dengan keterbatasan, dan mereka tetap bersemangat. Berada di sana selama dua bulan telah membawa saya ke perenungan seumur hidup, bahwa sebagai generasi yang bisa menikmati pendidikan lebih baik saya dan anda memiliki kewajiban yang lebih berat, memastian bahwa ditahun–tahun ke depan tidak ada lagi kelas-kelas kosong tanpa peta, anak-anak yang harus menyeberangi sungai yang berbahaya untuk datang kesekolah, dan tentu saja sebuah SMA tanpa laboratorium fisika.
Ketika tulisan ini ditulis, saya sedang berada di penghujung tahun sekaligus penghujung karir saya sebagai mahasiswa strata satu. Saatnya saya dituntut untuk melakukan lompatan-lompatan lagi. Lompatan yang lebih tinggi. Saya terketuk untuk bekerja bagi pemerintah, namun saya juga tergoda untuk bekerja di perusahaanperusahaan asing yang tentu saja akan menawarkan gaji yang 5 kali lipat lebih tinggi dibandingkan pemerintah. Well, baiklah ini perjuangan saya nanti segera setelah lulus. Saya pasti akan sangat merindukan teman-teman tim KKN Sorsel, tim AIMUN, Awak Equilibrium, teman-teman di jurusan IE dan segalanya yang embbaded dengan kehidupan kampus. Tapi saya harus segela meninggalkan kampus ini, giliran kalian yang mengisinya. Nikmati dan pastikan Anies Baswedan benar. Mbakyumu, Marcella.
TENTANG PENULIS
MARCELLA CHANDRA WIJAYANTI merupakan mahasiswi pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis dengan jurusan Ilmu Ekonomi yang mana pada bulan Februari 2010 akan memperoleh gelar sarjana strata satunya.
Pada tahun 2007-2008, Marcella menjabat sebagai Kepala Departemen Intelektual HIMIESPA (Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi) UGM. Kecintaannya dan prestasinya pada dunia tulisan patut diacungi jempol, beberapa prestasinya antara lain Peringkat I pada KOMPAS Essay Competition pada tahun 2006 dan Peringkat III pada Annual English Essay Competition UGM pada tahun 2010. Kemampuan menulisnya ini membawanya terpilih untuk kemudian mewakili fakultasnya pada ASEAN Student Summit – Chulalongkorn University International Conference (CUIC) 2010 di Bangkok, Thailand. Tidak hanya kemampuan menulisnya, kemampuan risetnya membuat Marcella mendapatkan Research Grant for Students 2010 dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Sedangkan pada bulan Mei tahun 2008 sampai bulan Januari tahun 2010, Marcella terlibat sebagai project assistant pada Kajian Pemilihan Ekonomi Pasca Bencana Gempa Bumi DIY dan Jawa Tengah yang diselenggarakan di Yogyakarta oleh Fakultas Ekonomika dan Bisnis
UGM bekerjasama dengan Kementrian Koordinator Ekonomi Republik Indonesia. Lain dari hal-hal yang telah disebutkan di atas, pada tahun 2009, Marcella mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi pada Asian International Model United Nations di Beijing, Republik Rakyat China.
satu diantara puluhan tulisan dari orang-orang yang luar biasa.
kunjungi http://inspirasi.ugm.ac.id/baca.php