RSS

Perguruan Jurnalistik KABARITA

Tertarik ikut perguruan ini, alhamdulillah ternyata email saya dibalas, padahal saya sudah hampir melupakan kesempatan ini. Semoga menghasilkan kebaikan yg lebih banyak.. aamiin ya Allah :)

Salam Pak Yusrizal KW

Saya Melinda Purnamasari, salah satu mahasiswi Jurusan Biologi, Universitas Andalas. Saya mendapatkan info dari wall FB dosen saya tentang Perguruan Jurnalistik KABARITA. Beberapa menit setelah membaca pengumuman, saya tertarik untuk ikut bergabung.

setahu saya dunia jurnalistik hari ini sudah sangat jauh berkembang, saat ini kegiatan tulis-menulis merupakan salah satu media industri strategis, sehingga sudah banyak kemajuan dalam mengapresiasi sebuah tulisan. wartawan digaji bahkan juga sertifikasi agar mampu bekerja secara profesional. Kalau dahulu sering terdengar wartawan menerima amplop dalam menerbitkan berita ‘pesanan’, tapi yang saya rasakan sekarang hal ini mulai menghilang. Tak lupa, wartawan juga punya jaminan sosial*.

Menulis bagi saya adalah refreshing otak, ketika ide-ide yang hanya berputar putar dikepala mampu dituangkan secara terstruktur, mudah dipahami dan memberikan informasi yang bermanfaat bagi orang lain, hal tersebut benar-benar sebuah refreshing bagi jiwa. Bagi saya yang diakrabkan dengan dunia kepenulisan, terutama penulisan ilmiah, saya sangat paham sekali menulis itu bukan perkara gampang, bukan tidak sedikit calon sarjana yang tertunda wisuda karena ‘malas’ menuliskan hasil penelitian. Tapi, kalau sudah dibiasakan, menulis yang gampang-gampang susah akan berubah status menjadi susah-susah gampang :) . Yah, sebagai seorang mahasiswa, bagi saya menulis dan terus berlatih menulis lebih baik adalah suatu kemutlakan, sebab menulis adalah komponen yang tidak bisa dipisahkan dalam keseharian seorang mahasiswa, selain kegiatan membaca dan berdiskusi.

Saya berharap diberikan kesempatan untuk mengembangkan diri bergabung dengan Perguruan Jurnalistik KABARITA, disatu sisi saya merasa membutuhkan ini untuk menambah pengetahuan dan pengalaman untuk diterapkan dalam mengelola Majalah ‘Scielist’ (majalah kampus tingkat fakultas) yang saya koordinatori bersama teman-teman di LP2I (Lembaga Penulisan dan Penerbitan Islami).

*sebagaimana disampaikan oleh Pimpinan Redaksi Jurnal Indonesia

so, what’s next? :)
bismillah…

 
Leave a comment

Posted by pada 5 Januari 2012 in tulisan masa

 

#eaa part 2

Ada beberapa hal yang belakangan ini mulai sedikit mengusik pikiran saya.. setelah dicerna ternyata ada baiknya juga kalau dituliskan.. :)

1. Sebagian besar dari kita mungkin sering mendapatkan ‘doktrin’ bahwa dalam proses belajar, segala sesuatunya tidak diharuskan untuk dihapal tapi dipahami. betul kan? Sayapun ketika memasuki dunia Perguruan Tinggi merasakan ‘doktrin’ tersebut, terlebih karena saya berkuliah pada jurusan yang menurut sebagian besar orang ‘banyak hapalannya’. tidak heran kalau dosen-dosen sering menekankan kata-kata anda tidak harus menghapalnya tapi harus memahaminya. nah, apakah pemahaman seperti ini benar 100%? ayo, saya rasa tidak..
tidak selamanya menghapal itu buruk. setelah kita merasa paham pada suatu materi kemudian apakah kita merasa tidak perlu untuk menghapalnya? menurut hemat saya, suatu pemahaman yg keliru kalau kita menganggap menghapal tidak lebih penting dari memahami. bahkan, kita banyak menemukan missing ilmu karena hal-hal yg seharusnya bisa kita jabarkan lebih baik menjadi tidak lengkap sebab kita melupakan bagian-bagian tertentu. jd, oyo kita pahami dulu kemudian hapalkan.. atau hapalkan dulu dan jangan lupa untuk memahaminya. menghapal dan memahami adalah dua hal yang seharusnya berjalan beriringan..

2. Berbakti kepada orangtua, tidak hanya tentang balas budi.. atau hitung-hitungan tentang kita yang kelak juga akan menjadi orang tua, sehingga berharap diperlakukan dengan baik oleh anak-anak kita. tidak, tentu saja tidak.. persoalan berbakti kepada orangtua lebih dari sekedar kalkulasi sederhana seperti tadi. Posisi kita sebagai anaklah yg membuat berbakti adalah suatu keniscahyaan, ini tentang ‘terimakasih’ yang sudah seharusnya kita berikan, terlepas dari seperti apa dan bagaimana nya kita, ucapan terimakasih lahir dari penghargaan atas jerih payah, bukan karena balas budi atau berharap perlakuan yang sama dimasa mendatang.. insyaallah.

3. Tidak terasa sudah memasuki semester VI saja.. bismillah. semoga dari awal sampai setelahnya nanti tidak meninggalkan catatan hitam karena mengulangi kesalahan yang sama disemester lalu. semangat grak!
meninggalkan semester V (harus) dengan keoptimisan. aha, smg Allah mudahkan dan berkahi!

Padang, dipenghujung Desember 2011
~~~~>>>

 
4 Comments

Posted by pada 31 Desember 2011 in tulisan masa

 

#eaa

malam-malam begini saya jadi teringat beberapa hal, hal-hal tersebut membuat saya kadang bilang ke diri sendiri ‘ah, dasar kamu mel, benar-benar tidak habis pikir, sungguh-sungguh-sungguuuhhh lewat batas kekonyolan’. na lo, ini maksudnya apa ya? (lewat batas kekonyolan berarti hal tersebut benar-benar membuat saya tanpa ekspresi dlm menjalankannya, dibilang cuek enggak, dibilang enggak eh cuek sekali). hal-hal itu seperti:

1. Pernahkah anda memutuskan tetap naik angkot, padahal anda tau tidak punya cukup uang untuk membayar sewanya?
saya harus berangkat saat itu juga, walaupun sadar tidak punya uang, selama perjalanan saya memikirkan peluang-peluang untuk bisa membayar sewa angkot ketika saya sudah sampai ditujuan. ah, benar-benar nekad. tapi, saya menemukan solusinya dg mulus alhamdulillah :D

2. Pernahkah ketika anda memutuskan untuk tidak ikut ujian tengah semester, ketika melapor untuk ujian susulan, alasan yg diberikan saya pulang kampung! (saya pulang kampung, bukan sakit) pernyataan inipun keluar dengan tampang polos tak berdosa, anehnya saya yakin akan diberi kesempatan ujian susulan (pada saat itu) walaupun harus di’nasehati’ dulu. alasannya klasik saja, besok dikampung saya Idul Adha bu.

3. (pertanyaan berikut ini hanya untuk mereka yg kenal denah fakultas mipa unand) Pernahkah ketika jam menunjukkan pukul 19.00 anda memutuskan berjalan dari gedung C menuju mushala seorang diri? pada saat itu tdk ada seorangpun dimushala, ambil wudhu’ dan sholat magrib.. lalu melanjutkan perjalanan menuju laboratorium dasar seorang diri? dengan berjalan kaki… *setelah diingat-ingat, fiuh~
karena di jam sholat semua orang masih rapat, beruntung saat itu, sebelum saya menelusuri labor dasar, seorang teman tidak sengaja melihat lalu meneriaki saya, dan mengajak untuk pulang bersama :D

setelah difikir-fikir;
nekad itu muncul karena sebelumnya otak kita sudah mengkalkulasikan keputusan-keputusan yg akan ditempuh, selanjutnya adalah urusan kita, apakah mau berkomitmen dg apa yg telah kita putuskan td atau tidak?
ketika kita memilih ‘berkomitmen’ maka insyaallah akan berjalan lancar.. walaupun dg sedikit ujian. namun, ketika ditengah jalan kita putuskan ‘tidak’ maka setelah itu kita akan berada pada daerah abu-abu, daerah yg membuat kita GAMANG dengan apa yg harus ditempuh.
oleh sebab itu, pilih salah satu dan bawa pulang resikonya!
sebab setiap alternatif pilihan, semua punya resiko. jadi ingat game Super Mario, ketika kita memilih diam (membiarkan waktu terus berjalan), waktu permainan tetap melaju, sementara nyawa masih ada sebelum waktu habis.. lalu, GAME OVER.
karena hidup kita ini, dari jam ke jam nya adalah pilihan. maka dari pada itu, beranilah memilih dan berkomitmenlah ;)

“Tinggalkan yang meragukanmu menuju hal yang tidak meragukanmu.”
(HR. Tirmidzi dan Nasa’i)

wallahua’lam..
sebuah nasehat u diri juga
sudah larut malam
Wisma Syakuro, detik-detik UAS

 
11 Comments

Posted by pada 14 Desember 2011 in tulisan masa

 

Seunik Sidik Jari

..bismillah

untuk tulisan kali ini, saya ingin sedikit berbagi tentang subjek ‘dermatoglifi’ yang beberapa minggu lalu saya pelajari di Laboratorium Genetika dan Sitologi Universitas Andalas. sebenarnya pengenalan tentang dermatoglifi ini telah saya dapatkan pada Praktikum Biologi Umum ketika semester 1 dulu, pada saat itu dikenalkan kepada kami 3 pola sidik jari yaitu Whorl, Arch, dan Loop. Namun tidak disertakan dengan identifikasi pola sidik jari masing-masing (jumlah sulur dan triradius). Nah, disemester 5 ini, kalau menyimak Praktikum yang diberikan dengan baik, tentunya sudah bisa membedakan pola-pola Plain Whorl, Composite Whorl, Arch, Tented Arch, Double Loop, Loop Urnal, Loop Radial, dll.

Pada buku ‘Menyingkap Rahasia Sidik Jari’ yang ditulis oleh Fikri Abdillah S.Psi di lampirkan banyak sekali pola-pola sidik jari, diantaranya pola yang saya sebutkan diatas ditambah dengan pola-pola turunan.
well, sebelum kita berbicara lebih lanjut, sebenarnya apa sih dermatoglifi itu? saya kutipkan pengertiannya dari buku mas Fikri Abdillah.. Dermatoglifi (dermatoglyphics) adalah ilmu yang mempelajari kulit telapak tangan, asal katanya derma (kulit) dan glyphs (garis-garis yang terukir). apabila kita sekarang ini berbicara tentang dermatogliphs, maka sebagian besar berhubungan dengan dengan sidik jari, meskipun banyak garis-garis lainnya ditelapak tangan.

lalu apa hebatnya sidik jari?
sidik jari unik sebab tak satupun manusia yang sidik jarinya mirip dengan manusia lainnya. Para peneliti menemukan bahwa sidik jari memiliki hubungan yang bersifat ilmiah dengan kode genetik dari sel otak dan potensi inteligensia seseorang.. *na lho pada lihat sidik jari masing-masing nih :P

ayo, jangan sekedar ngeliat-liat aja. tp, coba saja menakar-nakar kemampuan/bakat bawaan kita sejak lahir.. tentu tidak sekedar menakar, tp ada ilmunya. nah, ini berbeda loh dengan meramal :)
saya sudah coba :D . menurut hasil yang saya dapatkan, akurasinya bisa dikatakan 91%.. woow, mantab tuh. pengen coba? *saya beli bukunya 30ribu di bazar FSI two week*

berhubung data sudah diperoleh saat praktikum, jd tinggal dianalisa berdasarkan apa kata buku.. berikut hasil sidik jari saya beserta analisanya.. *no narcisus, ini data apa adanya*

mulai dari jari tangan kanan:
ibu jari. pola plain whorl. menurut analisa secara garis besar yg tercantum pada buku (tentunya analisa yg lebih akurat dengan menggunakan alat scan sidik jari). pola ini pada ibu jari mempunyai bakat kepemimpinan alami, kemampuan kuat untuk memerintah orang lain, memiliki kecenderungan yang kuat untuk otoriter atau diktator.

jari telunjuk. pola tented arch. pola langka yang dimiliki sekitar 5% dari total populasi manusia. pola tented arch pada jari telunjuk mempunyai pandangan tradisional mengenai ambisi, karier, dan kepemimpinan, yakin bahwa harus bekerja keras untuk mendapatkan uang, menyimpan uang, dan menginvestasikannya untuk masa depan. memiliki rasa kekaguman yang rendah terhadap diri sendiri (memiliki kecenderungan keinginan untuk bunuh diri, gangguan mental, dan wujud-wujud lain dari bentuk penganiayaan terhadap diri sendiri).

jari tengah. pola tented arch. manusia dengan pola ini mempunyai pemikiran yang tradisional. ia meyakini bahwa pendidikan adalah satu-satunya cara untuk memperoleh kesuksesan. hm, berhubung saya punya 2 pola tented arch yaitu pada jari telunjuk dan tengah, ini menunjukkan akal yang sangat dalam, namun terkadang orang dengan tipe ini memiliki waktu yang lama untuk menyerap pengertian mengenai konsep-konsep. hal ini karena ia lebih mementingkan pemahaman yang lengkap daripada sekedar suatu pemahaman dangkal dari suatu pengetahuan.

jari manis. pola loop urnal. tipe ini menciptakan emosinya sendiri serta respon-respon emosionalnya. orang lain tidak pernah benar-benar memahaminya, karena tidak bisa memahami emosi atau respon-responnya yang pernah dialami orang lain. akhirnya ia tidak pernah merasa sesuai dengan masyarakat disekitarnya.

jari kelingking. pola loop urnal. tipe ini pada jari kelingking menunjukkan (meskipun jarang ditemui), seseorang yang menciptakan pandangan-pandangan religius dan kerohanian mereka sendiri. ini tidak akan bercampur dengan filsafat-filsafat lain yang bersifat umum, tetapi akan menjadi sebuah agama yg didasarkan pada konsep yang benar-benar baru. *iseng2 ngecek jari kelingking akhawat yang ditemui, saya dapatkan 100% polanya loop semua, wow*

nah, selesai jari kanan.. lanjut tangan kiri.. untuk pembahasannya nanti diakhirkan saja.

ibu jari. pola composite whorl. penjelasan sda.

jari telunjuk. loop urnal. tipe ini menunjukkan seseorang yang mengekspresikan egonya dengan cara yang unik, bekerja mandiri adalah satu-satunya jalan untuk pemenuhan kebutuhn pribadinya.

untuk jari tengah, jari manis, dan jari kelingking polanya sama dengan tangan kanan saya.. *biasanya memang jari tangan kanan dan jari tangan kiri kita punya pola yang sama/dominan sama*

nah, pembahasannya..
tes sidik jari punya kelemahan dan kelebihan. tes ini mengukur potensi/bakat bawaan manusia secara genetik, tapi tdk mampu mengetahui bakat yang muncul kemudian karena faktor lingkungan.. jadi hasil tes sidik jari 1 tahun yang lalu akan sama dengan hasil tes 50 tahun mendatang. tidak berubah. selain itu, waktu tes sidik jari ini singkat, tidak perlu waktu berjam-jam untuk menyelesaikannya.. berbeda dengan psikotes yang membutuhkan kondisi mental dan tubuh yang vit karena akan signifikan mempengaruhi hasil tes.

saya pernah membaca di internet (asisten praktikum juga pernah bilang) bahwa seseorang dengan pola whorl diseluruh jarinya menandakan seseorang yang genius. Ketika pola arch ditemukan pada seluruh jari, maka cenderung ke arah idiot/bodoh (but saya belum pernah baca langsung sumbernya), tapi pernah dilakukan penelitian terhadap sudut ATD (pada telapak tangan) yang ketika besarnya kurang dari 60 derajat maka akan berpotensi idiot.
sejauh ini, dari beberapa orang yang saya ‘periksa’ sidik jarinya, saya menemukan 1 orang dengan 1 jari yang tidak berpola whorl dan 1 orang dengan 2 jari yang tidak berpola whorl (selebihnya whorl), saya berfikir orang tersebut memang punya bakat genius (diatas rata-rata kebanyakan orang) tp kembali ke faktor lingkungan tadi.. setelah kita punya bakat tapi lingkungan tidak pernah mendukung bakat tersebut atw kita tidak pernah tahu sehingga tdk ada usaha untuk mengembangkan bakat td, mungkinkah bakat tsb akan muncul maksimal?

setelah mengidentifikasi pola sidik jari, setidaknya ada gambaran bakat alamai yang kita punya berdasarkan hasil tes td, maka akan lebih mudah bagi kita untuk men-singkronkan bakat dengan bidang yang akan kita tempuh, agar sejalur dan hasilnya akan lebih memuaskan (kalau puas, tentu tingkat kebahagiaan juga meningkat).

~walaupun di Padang sdg IN tes-tes sidik jari, saya bukanlah salah satu pengelolanya :P , hanya tertarik saja menuliskan tentang sidik jari.. semoga bermanfaat..

gambar pola sidik jari:

“Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun kembali jari jemarinya dengan sempurna” (Al-Qiyamah: 4)

referensi:
Abdillah, F. 2010. Menyingkap Rahasia Sidik Jari. Surakarta: Ziyad

 
4 Comments

Posted by pada 4 Desember 2011 in tulisan masa

 

Ayo berhijrah karena Allah!

Lomba Artikel Islami Forstudi 2011
Tema: Memaknai hijrah sebagai suatu keharusan

Ayo berhijrah karena Allah

Dahulu, ketika Nabi kita Muhammad SAW memutuskan berhijrah dari kota kelahirannya (mekkah), kita tahu kemudian hal itu menjadi moment penting dalam sejarah peradaban islam. Kalaulah perintah hijrah tidak turun dan Nabi tidak jadi berhijrah, mungkin perkembangan da’wah islam stagnan, kemudian islam saat ini adalah sesuatu yang asing bagi kita. Alhamdulillah, saya terlahir sebagai islam.

Bersyukur kepada Allah bagi siapapun yang pada akhirnya menemukan islam sebagai agama yang bersahaja..
Hijrah menjadi keputusan yang sangat tepat saat itu, diantara yang ikut berhijrah mengorbankan banyak hal; meninggalkan keluarga dekat, sahabat, kebun-kebun, mengancam keselamatan jiwa, harta kekayaan, kedudukan, dll. Mereka yang memilih untuk ikut berhijrah tentu paham dengan konsekuensi yang mereka terima, tapi hitung-hitungan untung rugi seperti ini tentu tidak akan mengalahkan prinsip sami’na wa atho’na pada jiwa yang telah terlanjur menjual dirinya untuk Allah SWT dan RasulNya. Subhanallah.

Pada saat itu mereka memaknai hijrah sebagai suatu keharusan. Adapun kita saat ini seperti apa dan bagaimana harus memaknai hijrah? Moment tahun baru hijriah bagi kita untuk sama-sama memposisikan diri sebagai umat yang kenal dengan sejarah, bukankah dengan begitu kita akan menjadi umat yang menghargai jerih payah? Setelah mengenal sejarah kita akan mampu mengukur kemunduran atau kesuksesan yang diterima. Tahun baru kita maknai sebagai satuan waktu yang secara langsung menyentil kita, menanyai setiap amal-amal kita yang berlalu, menegaskan fungsi dan peran kita yang semakin banyak seiring bertambahnya bilangan tahun. Pemaknaan tahun baru dari sudut pandang seperti ini mematok keharusan untuk berhijrah, bukankah begitu? Hijrah dalam artian yang lebih ke-kita-an. Kalau Nabi dan pejuang islam terdahulu mengorbankan banyak hal dan berhasil mencapai suatu fase kegemilangan islam. Setidaknya kita mulai mengambil ibroh dan mencobakannya juga, mulai berkorban hingga pada suatu saat bisa menyumbangkan karya untuk umat. Insyaallah.

Memaknai hijrah, sehingga kita menjadi paham kalau hijrah seorang muslim dari kondisi yang buruk kepada kondisi yang lebih baik adalah suatu keharusan. Untuk memulainya niat punya bagian yang sangat penting dalam membentuk perwujudan keinginan kita, maka dari pada itu meluruskan niat berhijrah untuk mendekatkan hubungan kita dengan Allah adalah suatu keharusan. Semoga dengan awal yang baik kita mampu mendapatkan hasil terbaik.. So, bagaimanapun engkau mengukir kisah hijrahmu, semoga hanya Allah saja yang menjadi muara dari setiap niatan. Kristalkan semangat berhijrah dari kondisi yang tidak baik ke kondisi yang lebih baik pada jiwa kita.. dengan begitu sudah saatnya kita suarakan untuk tidak menunggu momentum untuk berhijrah.. nah betul kan? Ayooo berhijrah karena Allah :)

 

Wallahua’lam
Jazakumullah khairan katsira
Padang, 28 November 2011

Identitas Penulis
Nama : Melinda Purnamasari
BP : 0910422035
Jur : Biologi
HP : 08975104073
Email : a2z_lathifa@yahoo.com

*koneksi internet yg bermasalah disaat2 deadline terakhir. heu, pasti ado hikmah ko mah :D
Nikmati harimu!
~salam Kaizen~

 
Leave a comment

Posted by pada 4 Desember 2011 in tulisan masa

 

Kaitkata:

tuntut-menuntut

Izinkan saya menikmati waktu saya ini
Tanpa harus memutus nafas karena banyak yang harus diselesaikan
Sekali ini saja saya mohon..
Kenapa? Meningkatnya dosis tuntutan orang lain terhadap saya..
Malah membuat saya menaikan tuntutan saya terhadap diri saya sendiri?
Ah.. lucu kan?
Bagaimana seharusnya saya menikmati waktu saya ini?
Mendadak hidup ini tidak adil (heleh)
Setiap orang punya waktu sama tapi dengan tingkat tuntutan yang berbeda-beda
Ada yang;
Tidak ada tuntutan
Sedikit tuntutan
Banyak tuntutan
Tiga kategori diatas dengan tingkat feedback yang berbeda pula
Dengan hasil:
Tidak ada tuntutan, feedbacknya tidak ada menuntut
Tidak ada tuntutan, sedikit menuntut
Tidak ada tuntutan, banyak menuntut
Sedikit tuntutan, tidak ada menuntut
Sedikit tuntutan, sedikit menuntut
Danseterusnya… danseterusnya..
Jika tuntutan adalah gen A dan menuntut adalah gen B maka perbedaan kadar keduanya mempengaruhi jumlah variasi gamet yang dihasilkan
#Kenaikan kadar tuntutan pada seseorang, bisa membuat orang tersebut lebih sedikit menuntut
Faktor yg mempengaruhi bisa banyak:
Pertama, karena sudah sering dituntut sehingga ia tahu bagaimana benar rasanya dituntut, sehingga hal tersebut membuatnya tidak mau menuntut
Kedua, seseorang menjadi tidak banyak menuntut, karena hal yang akan dituntutnya tersebut akan bersinggungan dengan apa yang dituntutkan kepadanya
Ketiga, sisi menuntutnya terdegradasi karena seringnya dituntut :D
Keempat, faktor yang sama-sama kita mahfum yaitu lupa. Lupa menuntut.
Atau malah sebaliknya,
#Kenaikan kadar tuntutan pada seseorang akan membuat orang tersebut banyak pula menunut
Menurut hemat saya inilah faktor utama penyebab stress.
Terakhir: izinkan saya memaknai kata ‘tuntutan’ sebagai sebuah proses untuk kebaikan.. itu saja :) kalaupun prosesnya memang panjang disingkat saja ya.. :D *ayo tarik nafas dan hembuskan..

Padang, 22 November 2011
*apakah sabar itu berarti tidak banyak menunut dan ikhlas dituntut :?:

 
2 Comments

Posted by pada 22 November 2011 in tulisan masa

 

Kaitkata:

Rabbani Fair2011

>>>sumbangan tulisan dalam rangka memeriahkan Rabbani Fair2011<<<

Bismillahirrahmanirrahim.
Lomba Menulis Kisah Inspiratif untuk Ibunda Tercinta
Subtema: yang tak terlupakan dari seorang ibu

Mama dan Celotehan Semangat
Melinda Purnamasari
Jurusan Biologi, FMIPA-UNAND

Saat menuliskan kisah ini, saya sedang merasakan efek 1 kapsul ‘armovit’ yang barusan saya telan dengan bantuan seteguk air. Komposisi ginseng yang dikandungnya mulai merangsang sel-sel syaraf saya untuk berkonsentrasi penuh terhadap apa yang sedang saya lakukan. Food supplement yang sedikit banyak memaksa neurotransmitter bergerak lebih cepat pada sinaps-sinaps di otak, membuat saya tidak sabaran untuk segera menuliskan kisah seorang perempuan mulia yang saya sebut mama.

Saya yakin, setiap anak yang waras tidak akan pernah melupakan orangtuanya. Seperti banyak kisah tentang keberhasilan seseorang yang dikawal oleh do’a dan dukungan orangtua. Terkhususnya untuk seorang wanita berhati mulia, yang melahirkan dan merawat kita sedari kecil, dikarenakan kemuliaan posisinya, maka Allah SWT perintahkan kepada setiap anak manusia untuk memuliakannya.. diabadikan dalam Q.S Lukman ayat 14 artinya: “dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada kedua orangtuamu, hanya kepada aku kembalimu”. Nah, seorang ibu itu dimuliakan karena posisi dan tugasnya :)

Memori saya berputar kebeberapa tahun silam, saat saya masih bayi, balita, remaja, hingga sampai saat ini menginjak dewasa. peran dan bimbingan mama tidak pernah absen dalam hidup saya, dukungan tertulus dan terbesar beliau selalu diberikan, walaupun pada sebagian besar hal saya lebih cenderung sepaham dengan papa, namun mama ternyata punya ruangan tersendiri yang tidak bisa digantikan dengan seorang papa terhebat sekalipun, dihati saya.

Tidak terhitung banyaknya waktu mama yang tersita dalam mengurusi saya, tapi bukankah pada waktu mama memang ada bagian untuk saya? Ini seperti siklus dengan fase-fase yang terus berulang pada dimensi waktu yang berbeda dan lakon yang berbeda pula, sebab esok sayapun juga akan menjadi seorang ibu, inshaallah. Tidak terhitung banyaknya keringat yang menetes karena menjaga saya, tapi bukankah keringat itu menjadi bukti betapa ia telah berusaha menunaikan kewajibannya sebagai seorang perempuan luar biasa? Tidak terhitung berapa banyak air mata yang menetes karena perangai saya, tapi izinkan saya mengatakan bahwa itu adalah air mata yang harus tumpah sebagai konsekuensi sebuah cinta.. luar biasa!

Menginjak usia dewasa ini, cara pandang sayapun mulai berubah.. entah kenapa saya tetap bisa menghargai beliau walaupun pendapat beliau berseberangan dengan saya. Satu hal yang menjadi karakter mama, celoteh semangat. Saya menyebutnya demikian karena seringkali celoteh keseharian yang tidak sengaja beliau lontarkan menjadi lecutan semangat bagi saya. Beliau sepertinya paham sekali karakter saya yang akan bereaksi optimal disaat kondisi ekstrem, hehe. Sehingga seringkali celotehan kecil tersebut malah menjadi sebuah spirit dalam mencapai cita-cita :)

Awalnya saya tidak suka makan tomat dan minum susu. tapi, kegigihan beliau berceloteh setiap pagi berhasil menaklukkan saya, sekarang tidak suka berbalik 180° menjadi sangat suka. Kalau saya mau, satu botol susu bisa selamat dalam sekali teguk *haha, tapi saya lebih suka menyisakannya untuk diminum tiga kali teguk. Celoteh mama juga yang telah menyemangati saya menjadi pribadi yang harus bisa rapi (tidak meninggalkan kamar tidur dalam kondisi berserakan, meletakkan barang-barang yang diambil pada tempatnya, merapikan kembali perkakas dapur setelah selesai digunakan). Kadang celotehan beliau juga hadir saat saya membaca buku ketika sedang memasak, sambil membereskan gorengan ikan yang saya buat gosong beliau mengomel ‘indak ka jadi professor, kadapua babao juo buku, mamasak mambaco juo’. Celotehan semangat yang sampai saaat ini masih segar dalam ingatan saya. Sejak saat itu sampai sekarang, saya berjanji akan menjadi professor. What a lovely mother :)

Saya punya rasa ingin tahu yang besar terhadap banyak hal.. saat masih TK-SD, mama sering mengunci pintu rumah saat belanja/bepergian ke luar, tentu saja ini dimaksudkan agar kami tidak bisa bermain dan tetap aman dirumah selam beliau pergi. Tapi, saya kemudian malah mencari celah dan mengkomandoi adik untuk bergerak keluar rumah melewati jendela *haha, kadang kami berhasil masuk lagi kerumah sebelum mama pulang, sampai akhirnya ketahuan juga :D . Ketika saya rajin berkunjung ke tetangga dan memencet tombol-tombal pada layar televisi atau VCD mereka. Ketika tiba-tiba orang tua teman saya mendatangi rumah dan mengadukan kelakuan saya terhadap anaknya. Ketika saya bertanya kenapa padi, beras, dan nasi punya nama yang berbeda padahal mereka itukan sama? Ah, seketika celotehan itu mendadak menjadi sangat jelas diingatan saya..

Walaupun hanya sekedar celotehan, tapi penting bagi saya, terlebih lagi disaat ini saya tidak lagi tinggal serumah dengan beliau, jadwal pulang kampung yang tidak bisa rutin membuat saya terkadang merindukannya. Kadang iseng juga, ketika pulang kampung membuat beliau ‘berceloteh’ dahulu barulah saya tersenyum dan menyegerakan keinginan beliau, he. Pernah suatu ketika beliau berkata, selagi mama masih memarahi kalian itu berarti mama masih peduli dengan kalian. Kata-kata ini baru benar-benar saya pahami ketika saya duduk di SMA. Benarlah kiranya, celotehan itu tanda perhatian.

Beberapa hari yang lalu, genaplah setengah abad usia mama. Tak sengaja saya memandang wajahnya, sisa-sisa kecantikan masa muda tampak tak megizinkan keriput hadir diwajahnya.. ah, bakti saya masih jauuuhh.. semoga Allah SWT berikan saya kekuatan untuk membahagiakan beliau dalam sisa-sisa umurnya.. Bagi saya, orangtua dengan segala kelebihan yang menyemangati dan kekurangannya tidak akan memudarkan rasa hormat saya kepada mereka.

Alhamdulillah..
Padang, 13 November 2011 at 2.50 p.m

 
Leave a comment

Posted by pada 13 November 2011 in tulisan masa

 

Kaitkata:

[PR] Nostalgia SD

Sebenarnya, ketika mendapatkan maklumat mengerjakan PR ini saya sedang ditunggu oleh pe-er lainnya, ada beberapa hal yang harus diselesaikan. hoam.. tp oke-oke.. untuk menghargai sipemberi pe-er maka saya harus mengerjakan pe-er ini dengan baik :D

nostalgia masa-masa SD.. hm, kembali mengingat-ngingat apa-apa yang masih bisa diingat, he. ohy, ternyata ada format bakunya, kalau begitu saya menulis sesuai formatnya saja. selamat menikmati :)

Guru Favorit
saya mencoba mengklasifikasikan, apa hal yang membuat saya memfavoritkan salah seorang guru, apakah dikarenakan faktor kedekatan emosional, intensitas interaksi, atau karena ada hal-hal unik yg mengingatkan saya kepada beliau, seperti: 1)saya sering dimintai tolong menutup pintu kelas, guru saya tsb tidak tahan berangin-angin karena penyakit reumatik, jd hampir setiap pagi selalu kebagian jatah menutup pintu -> walas2, Bu Yusni. atau 2)ketika saya pindah sekolah ke kabupaten (kelas6 cawu2) dikarenakan papa pindah tugas, saya kenal dengan guru yang senang tersenyum kepada murid-muridnya. alasan kedua ini jauh lebih masuk akal.. :) . ya, jawabannya bu Pit, lengkapnya Fitria S.Pd, guru yang tulus, guru yang menghargai potensi yang ada pada murid-muridnya. kami belajar tidak hanya sampai sore, tp sampai menginap dirumah beliau, membawa bekal makan malam dari rumah masing-masing. terakhir ketika saya bertemu, beliau masih mengingat saya..

Guru Killer
Maksudnya guru yang berbakat membunuh? :mrgreen: . alhamdulillah tidak ada.. kalau sewaktu es-de saya rasa tidak ada, setiap guru saya ketika es-de berbakat untuk tidak memarahi tanpa sebab. tapi, kalau yang dimaksud guru yang tegas, saya memasukkan Bu mimi (kelas4), Bu Hilda (kelas5), dan Bu Ita (kelas6) pada kategori ini :D

Teman Bolos
setelah diingat-ingat, aktivitas bolos/cabut tidak pernah saya lakukan. diingat-ingat lagi.. hmm.. ada atau tidak ya? :P , amnesia akut dibagian ini karena rumah saya sangat dekat dengan tempat sekolah es-de, biasanya saya pulang ke rumah untuk makan di jam istirahat, ini masuk memboloskah? :?: . jd, berhubung aktivitas membolos masih dalam kategori syubhat, maka saya tidak juga bisa menyebutkan teman saya membolos..

Teman Berantem
ah, ini yang paling ingat :D . ada seorang teman yang saya buat kesal dikarenakan saya selalu mengadukan perbuatannya yg senang menyenggol setiap kali saya menulis, saya tidak bereaksi untuk dua-tiga kali senggolan. namun bereaksi dikali keempat dan mengadukannya ke walas (waktu itu saya kelas3) :D .

Jajanan Makanan/Minuman Favorit
setiap hari ketika uang jajan cukup, saya sering membeli nasi goreng etek (saya menduganya etek membuat nasi goreng dengan mencampurkan cabe sisa memasak gorengan plus kecap, sebab rasa nasi goreng beliau mirip dengan yg saya cobakan dirumah [nasi+cabe sisa gorengan+kecap]), karupuak kuah sate+mie, borobudur, kuaci ‘matahari’, balon-balon *apalah namanya* yang selalu ada undian nomor tertentu jika beruntung dibalik kertas pembungkus, gulo-gulo telapak kaki warna merah *apolah merknyo, sekarang msh dijual*, dan juga ciki-ciki merk ‘Taro’, juga ada ‘pisang kapik’ yang ditaburi campuran kelapa dan gula aren+taburan susu coklat. untuk minuman.. segala macam es, sampai sembunyi minum es karena takut ketahuan :)

Mainan Favorit
vote untuk main tali (berlomba siapa yg bisa jangkau sampai tiaaang :D ) di urutan pertama, lanjut main barbie/bongkar pasang/masak-masak dan sejenisnya, main kemah-kemahan didalam rumah bersama adik, main kelereng, main dore/cakbur dan sejenisnya, main sepeda, main lilin ketika bulan ramadhan, main gambar, main kotak rokok, main congkak, main kasti-voli-tenis meja (ketika jam sekolah), main jelangkung dalam mesjid :D (pas musim2nye jelangkung dulu), main petak umpet, main ular tangga, main-main diatas pohon :P
*serius ini favorit semua..

Sepatu Favorit
wah pas es-de saya tidak ingat lagi pake sepatunya merk apa saja ya? yang jelas mama selalu memilihkan pilihan nomor yang lebih besar dari ukuran kaki saya, alasannya supaya tidak cepat kekecilan :D

Tas Favorit
hm, ini juga bagian yang susah-susah gampang mengingatnya, karena pilihan tas bukan kehendak saya, tapi pilihan mama. jd, tidak begitu berkesan.. kecuali sebuah tas yang dibelikan makdang ketika berlibur ke batusangkar, tas ransel berwarna coklat.

hm.. dilanjut kesiapa ya..
semoga orang-orang dibawah ini berkenan mengerjakan PR dari saya, he.

1. Hilda Rahmiati
2. Suci Amalia
3. Munadyah Asy Syahidah
4. Dian Puspa Wiguna
5. Yori Yuliandra
6. dan siapapun yang bersedia mengerjakannya.

untuk yang tercantum namanya pada list diatas, semoga legowo mengerjakan PR kali ini ya.. he. SELAMAT MENULIS ;)

 
12 Comments

Posted by pada 9 November 2011 in tulisan masa

 

saya dan banyak hal

bismillahirrahmanirrahim

pada kesempatan tulisan kali ini saya ingin berbagi tentang cita-cita, kesenangan dan keinginan saya. sok atuh mari mulai menulis :D

pertama, sedari esema saya bercita-cita melanjutkan ke sekolah intelijen di pulau jawa, informasinya dari papa, informasi tentang sekolah ini sangat terbatas pada kalangan tertentu saja, semacam sekolah binaan BIN. setelah melihat antusiasme saya, respon beliau selanjutnya adalah datar, cool dan no comment -_- alasannya ‘beresiko dan tidak cocok’.. euu.. ya sudahlah sekarang tidak mungkin disesali lagi karena saya akan jadi seorang biolog dalam team forensik ;) *eh, ngawur, haha.
Walaupun cita-cita ini tidak mungkin terwujud lagi sebab sudah kehilangan ‘momentum’nya, saya tetap yakin bahwa saya masih dan akan terus bersama cita-cita ini ;)

kedua, senang dikirimi surat :D . maksudnya, untuk suatu hal yang harus diseriusi, saya lebih senang membahasnya melalui tulisan. ya, saya senang dengan sebuah bukti otentik, sampai saat ini saya masih menyimpan surat-surat yang diberikan teman-teman ketika masih MTsN dulu, juga ada surat yang isinya menceritakan garis besar SELURUH seri Harry Potter agar saya tertarik membaca buku tsb *terbayang betapa maniaknya teman saya ini dengan HP, sampai sekarang tidak satupun buku HP yang saya tamatkan :P (gantinya saya coba senangi menyimak topik seputar HP ketika teman-teman saya mulai bercerita, sebelum akhirnya mereka pasrah karena saya hanya mengangguk, menyimak dan tersenyum). saya sudah coba kok memahami cerita HP itu -_-

ketiga, anggota keluarga yang paling dekat dengan saya adalah papa. Beliau selalu membuka kesempatan sebesar-besarnya untuk saya dalam mendiskusikan apapun, yah apapun itu. dari beliau pula saya belajar untuk tidak memandang status sosial dalam berdiskusi, posisikan diri kita sebagai seorang yang membawa topik diskusi bukan sebagai ‘siapa dan bagaimana kita’ dihadapan teman diskusi, sehingga diskusi tidak untuk menunjukkan egoisme masing-masing. satu hal lagi yang saya syukuri, keluarga saya bukanlah keluarga akademis yang punya perpustakaan pribadi dengan banyak koleksi buku. tapi saya merasakan kecintaan pada buku berawal dari keluarga. berterimakasih ketika keinginan saya untuk membeli majalah Bobo dikabulkan (walaupun kadang dengan sedikit rengekan), sampai akhirnya ketika awal-awal kelas VII saya meminta dibelikan majalah Annida namun beliau membelikan saya majalah Ummi (beliau bilang majalahnya bagus :D , inilah majalah Ummi pertama kepunyaan saya). what a lovely father.. :)

keempat, secara tidak sengaja saya suka membaca. saya rasa karena kedekatan dengan papa yang membuat pola pikir saya cenderung lebih rasional, dan untuk memenuhi keingintahuan saya diarahkan untuk rajin membaca. papa pernah menyuruh saya membaca buku ‘Muhammad the Super Leader Super Mananger’ karangan Syafi’i Anthonio jauh sebelum buku ini hangat dibicarakan seperti saat ini. sayangnya, saya baru mengakui kerennya buku tersebut setelah tamat dari SMA. dan menurut saya itu satu-satu buku keren rekomendasi dari papa :D . oy, setiap hari sepulang dari kantor, papa selalu datang dengan tentengan koran (Haluan, Posmetro Padang, Padang Ekspres, Singgalang, dll -koran daerah-). saya juga selalu menanti-nanti kolom ekonomi, disana ada tulisan mas Ippho Santosa yang pada saat itu mengisi rutin kolom bisnis dan ekonomi di Padang Ekspres, beliau termasuk penulis favorit saya semenjak pertama kali membaca tulisannya. saya juga menyukai kolom biografi tokoh, opini, dan edisi minggu. setelah kuliah kebiasaan membaca koran menghilang disebabkan tidak lagi berlangganan koran. lalu sesekali disiasati dg mengunjungi tempat baca koran gratis :P

kelima, awalnya saya tidak suka makan tomat dan minum susu. tapi, mama membuat saya menjadi menyukainya. mama juga yang telah mendidik saya menjadi pribadi yang rapi (tidak meninggalkan kamar tidur dalam kondisi berserakan, meletakkan barang-barang yang diambil pada tempatnya, merapikan kembali perkakas dapur setelah selesai digunakan). beliau sangat marah kalau saya membaca buku ketika sedang memasak, sambil membereskan gorengan ikan yang saya buat gosong beliau mengomel ‘indak ka jadi professor, kadapua babao juo buku, mamasak mambaco juo’ :D
sejak saat itu sampai sekarang, saya berjanji akan menjadi professor.
what a lovely mother.. :)
itulah orang tua, kelebihannya menyemangati dan kekurangannya tidak akan memudarkan rasa hormat saya kepada mereka :)

alhamdulillah..
Padang, 11.28 pm

 
12 Comments

Posted by pada 1 November 2011 in tulisan masa

 

belajar, bermain, dan lompat di udara

UGM itu ekskalator. Di UI mahasiswa biasanya datang dari orangtua dengan golongan somebody. Namun UGM adalah tempat bagi mahasiswa yang awalnya bukan siapa-siapa lalu menjadi somebody” -Anies Baswedan-

Arti kalimat itu tidak saya sadari ketika saya memutuskan untuk menuntut ilmu di kampus ini, melakukan daftar ulang segera setelah saya dinyatakan diterima. Bahkan ketika si pemilik kalimat itu, Anies Baswedan, mengatakannya langsung dalam wawancara khusus kepada reporter Equilibrium, majalah yang satu tahun saya pimpin, saya masih tidak tahu betapa benarnya kalimat itu. Saya nyaris memotongnya dan tidak memuatnya. Bukan karena beliau menyebut universitas lain, namun juga karena pada waktu itu, secara pribadi saya masih menyangsikan statement tersebut. Sebagai pimpinan redaksi yang bertanggung jawab atas segala kata yang dieja dan persepsi yang ditimbulkan pada setiap artikel yang naik cetak, saya harus teliti dan hati hati memilih kata dari narasumber yang ditulis oleh redaktur. Memutuskan mana yang naik cetak mana yang harus direlakan mendekam di hardisk si Patty, komputer tua milik Equilibrium. Tapi nyatanya, setelah 4 tahun bersekolah disini, saya sadar Anies Baswedan benar.

BELAJAR
Minggu pertama saya memulai status saya sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Ilmu Ekonomi saya segera menyadari hal terbaik : bisa ketemu dengan orang –orang yang sebelumnya hanya bisa saya lihat di TV atau saya baca artikelnya di koran. Bagaimana tidak, saya bisa saja sedang berlari lari dikoridor mengejar kelas berikutnya mendadak berpasapan Anggito Abimanyu sedang menikmati music lewat Ipod sambil berjalan menuju kelas atau berada dalam satu antrian di kasir kantin dengan Sri Adiningsih . Seminggu sekali saya bisa mendengarkan Toni Prasentyanto mengajar dengan gaya menyenangkan dikelas, padahal kabarnya Metro TV saja harus menunggu 4 bulan jika akan mengundang beliau untuk menjadi narasumber di program program berita mereka. Setiap sabtu saya dan juga semua orang di kampus bisa menemukan Boediono yang duduk dibawah pohon, dikelilingi mahasiswa-mahasiswa, sedang melakukan diskusi kelas. Saya bahkan pernah nyaris menabrak kijang kapsul yang beliau kendarai sendiri, tanpa sopir, padahal waktu itu beliau menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia. Luar biasa.

Lahir di keluarga Katolik- Jawa dan sebagai anak bungsu membuat saya tidak terlalu ambisius. Saya selalu ditekankan untuk melakukan sesuatu dengan tulus dan mengedapankan tepo sliro, cinta kasih, dan kebermanfaatan bersama dibandingkan kepentingan pribadi. Sebagai anak bungsu saya juga tidak punya beban tanggungan untuk bisa menjadi contoh bagi yang lebih muda. Saya terbiasa melakukan apa yang saya suka, yang tidak saya suka akan saya beri lambaian tangan selamat tinggal. Selalu berada di sekolah sekolah terbaik dengan persaingan akademis yang mematikanlah yang membuat saya harus menjaga prestasi akademis saya tetap berada di tingkat ‘aman’, suka atau tidak suka. Saya tidak menonjol di semua kelas. Sifat alami saya yang sesesukanya ternyata cukup dominan ketika saya menjalani kehidupan akademis saya di kampus (bukan hal baik untuk dicontoh), namun saya selalu menekuni dengan serius di kelas kelas dan bidang-bidang yang saya suka. Mengerjakan tugas-tugas dengan tulus, karena saya senang. Saya selalu berusaha outstanding dikelas. Bertanya bukan karena ingin di kelas atau dikenal dosen, tapi karena saya memang penasaran. Saya selalu heran kepada teman-teman saya yang mengejar IPK sempurna hanya karena orang lain ber IP 4 atau mati-matian menulis di untuk jurnal nasional hanya karena orang lain telah melakukannya. Prinsip semacam itu tak pernah terpikirkan oleh saya. Saya belajar karena suka, saya menulis karena saya cinta menulis. Meski tidak menonjol di semua kelas, ketulusan saya dalam menjalani kehidupan akademis saya berbuah juga. Beberapa dosen mengajak saya bergabung ke project- project riset mereka. Sejak semester empat, saya sudah terbiasa menjadi asisten riset. Dari sanalah ketertarikan saya dalam dunia riset dimulai. Selain secara finansial menguntungkan, saya juga bisa berkesempatan mengunjungi pulau-pulau lain di Indonesia. Saya menyebutnya: bekerja bonus belajar dan jalan-jalan. Saya terus membantu riset riset dosen hingga akhirnya saya bisa melakukan riset saya sendiri ketika saya
memenangkan grant pendanaan riset untuk mahasiswa dari Fakultas yang bekerjasama dengan Bank Dunia. Jumlah grant-nya memang tidak banyak, tapi cukup besar untuk periset pemula seperti saya. Riset dan tulisan bagi saya sampai saat ini adalah media yang paling menyenangkan untuk mengaktualisasikan kemampuan akademis sekaligus
berbagi ilmu dengan orang lain.

BERMAIN
Dunia jurnalistik adalah dunia yang saya pilih pertama kali untuk aktivitas kampus saya disamping kuliah. Saya bergabung dengan Equilibrium, Badan Penerbitan dan Pers Fakultas Ekonomika dan Bisnis, tepat ketika masa orientasi berakhir. Jurnalistik adalah sesuatu yang saya tekuni dengan serius sejak masih duduk dibangku SMP. Lagi-lagi benar kata orang, menekuni apa yang kita suka dengan serius, meski hanya untuk tujuan kesenangan, selalu tak pernah ada ruginya. Semuanya berjalan secara simultan. Ketika akan menulis saya terpaksa harus membaca. Menulis dan membaca membuat saya terlatih untuk membuat kalimat yang terstruktur dengan baik. Ini
sangat membantu saya untuk presentasi dikelas, mengerjakan esai untuk tugas –tugas mingguan, dan bahkan tugas akhir. Kebiasaan menulis juga mendorong saya untuk mengikuti berbagai lomba penulisan yang sama sekali tidak berbau ekonomi.

Berkat beberapa kali memenangkan lomba jurnalistik, beberapa tulisan dimuat dikoran, dan tentu saja menjadi nahkoda redaksi Equilibrium selama satu tahun, saya sering diundang ke berbagai forum-forum mahasiswa entah itu sebagai moderator atau pembicara . Serunya, saya beberapa kali bisa memiliki kesempatan berbicara satu podium dengan jurnalis jurnalis handal, seperti Pimpinan Redaksi Tempo Bambang Harimurty, Direktur Pemberitaan Metro TV Suryo Pratomo, Dirut SDM tempo Torig Hadad, dan anchor seperti Prabu Revolusi dan Bayu Sutiyono. Senang rasanya bisa mengenal sedekat itu dengan mereka, berdiskusi, dan menjalin hubungan sampai sekarang, ketika mungkin mahasiswa lain hanya bisa mengenal melalui televisi atau membaca tulisan mereka di media cetak. Selain memperluas jaringan, saya akui itu memperdalam kemampuan saya berbicara di depan publik. Oh ya , saya juga jadi punya sederetan plakat hasil kenang-kenangan menjadi pembicara di kamar. Sederet fans? Ahaha hitung saja itu sebagai bonus!

Setelah kepemimpinan di Equlibrium berakhir, saya diminta untuk memimpin Departemen Intelektual Himiespa (Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi). Jabatan baru ini mengharuskan saya untuk mendalami isu- isu ekonomi terbaru lebih keras dibandingan teman-teman yang lain, karena tugas saya adalah mengadakan diskusi diskusi, seminar dan mempublikasikan tulisan terkait ekonomi. Namun semuanya tidak sia-sia, karena terbiasa dengan isu ekonomi saya selalu siap kapan saja untuk berdiskusi atau membuat tulisan tentang isu –isu ekonomi
terkini. Saya kerap menjuarai lomba-lomba karya tulis yang diadakan universitas lain. Saya juga sempat mendapat peringkat ke tiga dalam ajang pemilihan Young Economist Icon yang diadakan Institut Pertanian bogor. Karena terbiasa pulalah, esai saya tentang kerjasama ekonomi wilayah Asean lolos seleksi dan saya berangkat mewakili fakultas untuk acara Asean Student Summit Chulallangkorn University International Conference di Bangkok, Thailand awal tahun 2010. Oh ya satu lagi, beratnya beban akademis dan padatnya jadwal kegiatan diluar kuliah tidak bisa menjadi halangan bagi saya untuk terus untuk mengembangkan diri. Bersama 10 teman yang lain, saya berkesempatan menengok negeri China dengan dana keroyokan dari Direktorat Kemahasiswaan UGM, Diretorat Perguruan Tinggi Kementrian Republik Indonesia dan Bank Mandiri. Kami berangkat untuk mengikuti Asian International Model United Nation (AIMUN) yang diadakan di Peking University pada musim gugur tahun 2009. Ini bukan hanya
pembelajaran tentang bagaimana memahami dunia secara lebih luas, namun ini juga tentang kesenangan, kegilaan, dan pemahaman atas diri masing-masing. Sampai sekarang saya masih sering merindukan teman-teman satu tim AIMUN 2009 ini. Memang, hal yang paling saya sukuri dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswa adalah saya selalu bisa menyeimbangkan antara belajar, bekerja, dan bersenang-senang. Dan saya pikir, ini perlu diusahakan bagi siapa saja yang ingin menjalani kehidupan kampus dengan bahagia.

MELOMPAT DI UDARA
Saya percaya hidup terdiri dari lompatan lompatan. UGM juga memberi kesempatan saya untuk terus melakukan lompatan. Bisa pergi keluar negeri, melakukan penelitian sendiri dan merasakan hidup di pulau paling ujung negeri ini. Bagi saya, lompatan tertinggi selama saya di UGM adalah ketika saya melakukan KKN di Sorong Selatan. Iya, di sudut timur negara ini, di sebuah kabupaten yang hanya bisa dicapai dengan menyeberangi bukit dan hutan lebat. Setelah 6 bulan menyiapkan keberangkatan , bersama 20 mahasiswa lain yang semuanya berkarakter campuran gila, pintar, dan multi talenta kami menjejalkan diri bersama over baggage seberat 500 kilo untuk 21
orang, berliter-liter lotion anti nyamuk, dan berton-ton kenekatan dalam pesawat termurah yang bisa kami temukan demi menghadang 8 jam perjalanan udara dan 6 jam perjalanan darat yang berbahaya. Benar, tepat disana, Sorong Selatan. Bukan ketika saya di Beijing, Bangkok, Bogor, Jakarta, Aceh, Samarinda dan kota- kota lain pernah saya kunjungi. Saya ingat betul darimana pemahaman ini datang.
Suatu pagi, tidak kurang 40 anak dalam kelas 8B SMP 2 Teminabuan meneriakkan yel “saya!saya!saya!pasti bisa!”dengan semangat. Kelas dengan bangku tua dan tembok kusam itu sedikit bergetar, termasuk hati saya. SMP 2 Teminabuan adalah sebuah SMP negeri di jantung kota kabupaten Sorong- Selatan, Propinsi Papua Barat. Yel heroik “saya!saya!saya!pasti bisa! Sengaja saya berikan ketika pada pertemuan pertama saya menemukan sedikit sekali siswa yang berani mengangkat tangan saat diberi pertanyaan. Bahkan, kadang menyebut nama mereka saat perkenalan pun dilakukan dengan suara pelan, kepala tertunduk , dan senyum malu-malu.

Saya tertegun untuk kedua kalinya, saat seluruh kelas bahkan tidak mengetahui arti coconut dalam bahasa Indonesia. Saya memahami dengan cepat, murid-murid yang saya hadapi tidak hanya memilki masalah kepercayaan diri tetapi juga kurangnya kemampuan akademik untuk ukuran anak-anak kelas 8 . Dalam perjalanan pulang dengan berjalan kaki setelah satu jam pertama mengajar, saya berusaha mengingat bagaimana saya dan teman-teman saya saat seumuran mereka, berada di kelas 8. Pertama, coconut tentu saja bukan kosakata bahasa Inggris yang baru, meskipun SMP saya terletak di desa kecil sebelah selatan Yogyakarta. Saya dan lebih dari separuh angkatan sudah lancar menulis sebuah paragraf dalam bahasa Inggris apalagi anak-anak SMP lain yang bersekolah di kota. Keberanian teman-teman saya dalam menjawab pertanyaan bahkan cenderung mengerikan. Masih segar di ingatan saya bagaimana teman-teman saya bersaing untuk mengangkat tangan, bertanya, menjawab, dan menyediakan diri untuk maju ke depan kelas mengerjakan soal demi simpati dari guru dan kebanggaan diri diantara murid yang lain. Saya berada ditahun ketiga bangku kuliah saat ini, jadi saya berada di tingkat 8 sekolah menengah 9 tahun lalu.

Ini berarti kondisi anak-anak disini sekarang jauh lebih buruk dari keadaan pendidikan di Jawa 9 tahun lalu. Bagaimana jika dibandingkan dengan anak-anak lain saat ini? Bukankah mereka sudah tertinggal sangat jauh? Saya rasa diperlukan lari sprint untuk mengejarnya. Pendidikan memang tidak pernah merata di negara ini, namun standar kelulusan merata dimana-mana,saya tidak bisa membayangkan bagaimana mereka mengerjakan soal UAN saat kelas tiga nanti. Mereka mendapat beban yang sama dengan fasilitas yang berbeda jauh. Saya bukannya pesimis dengan kemampuan anak-anak Papua, mereka adalah anak yang penuh semangat dan perhatian dengan hal-hal baru, namun bagaimana mereka bisa berkembang dengan baik jika separuh jam belajar mereka selama seminggu merupakan jam kosong karena tidak ada guru? Bagaimana mereka bisa mengenal dunia ketika tidak ada sepotong peta pun di dinding? Bagaimana mereka bisa tahu kosakata dalam bahasa inggris jika tidak ada satupun buku berbahasa Inggris bahkan kamus? Itulah profil umum sekolah-sekolah di kabupaten kecil di papua, tidak ada fasilitas pendidikan yang memadai, tidak ada sistem belajar-mengajar yang baik, dan selalu kekurangan guru. Anak-anak bersemangat itu mendapat beban yang sama dengan anak-anak di kota yang lebh maju namun dengan fasilitas yang tertinggal jauh.

Rasanya saya ingin mengajar selamanya disana, menempel dinding kelas dengan peta dunia dan gambargambar yang mengisnpirasi, mendatangkan ribuan buku, dan menjaring guru-guru yang sekualitas guru-guru di kota-kota besar. Beberapa tahun terakhir sistem pendidikan dasar dan menengah negara kita tidak lagi bersifat sentralistik namun dirancang secara desentralistik, meski pemerintah masih tetap memegang kebjakan umum, dan tetap
memusatkan pengaturan agama, keuangan dan hukum. Perubahan arah kebijkan pendidikan dari sentralistik ke desentralistik dinilai bisa menjadi salah satu peluang yang cukup kondusif bagi terciptanya pendidikan yang lebih baik. Kabar gembira juga datang di akhir tahun 2008 karena pemerintah memutuskan untuk menggratiskan biaya pendidikan dari tingkat dasar hingga menengah.

Keputusan ini Ini terdengar menggugah ditelinga saya yang menjujung tinggi pendidikan. Menggembirakan dan menyemangati seluruh anak pelosok negeri yang tidak mampu untuk bersekolah. Namun datang ke Papua, membuat saya sadar, bahwa teman-teman baru saya itu tidak sekedar membutuhkan sekolah gratis . Mereka dan seluruh anak di pelosok Indonesia ini membutuhkan apa yang disebut pendidikan yang berkeadilan. Kadang-kadang pendidikan berkeadilan tidak memerlukan pendidikan yang gratis. Jika boleh memilih, saya lebih suka system pendidikan yang terjangkau dan berkeadilan. Pendidikan berkeadilan bukan topik baru, terutama ketika salah satu partai politik mengusung topik itu sebagai salah agenda utamanya. Mendadak pendidikan berkeadilan dibicarakan, tentu saja menghilang setelah masa kampanye berakhir. Prof Suyatno, salah satu pakar pendidikan terbaik kita pernah mengatakan Dalam bidang pendidikan, keadilan memiliki nilai yang mungkin tidak persis sama dengan konteks institusi sosial yang menegaskan keseimbangan sebagai bentuk apresiasi nilai keadilan. Dunia pendidikan memiliki apresiasi sendiri dalam memaknai keadilan. Dunia pendidikan menjembatani paradoks-paradoks yang memberikan nilai sama pada keseimbangan berdasarkan kebutuhan-kebutuhan yang bersifat logis, pragmatis dan berorientasi pada semangat kompetisi untuk menciptakan nilai yang lebih berkualitas dan unggul. Konkretisasi nilai keadilan dalam konteks pembangunan pendidikan pada gilirannya melahirkan semangat inovasi dan keinginan-keinginan untuk menciptakan nilai dan menciptakan perbaikan-perbaikan yang lebih bersifat terbuka. Sebelum datang ke Papua dan melihat sendiri minimnya fasilitas intelektual anak-anak pedalaman saya akan terpukau dan jika berada di dunia Facebook saya mengklik tombol ‘like this’ berkali-kali atas tulisan itu. Namun sekarang saya tidak akan memaknai pendidikan berkeadilan serumit itu.

Pendidikan berkeadilan bagi saya adalah bagaimana seluruh anak di Indonesia, tidak peduli dimanapun berada mendapat fasilitas intelektual yang sama pada tingkat stndar yang dibutuhkan anak sekolah; buku-buku, alat peraga, guru yang berkualitas,alat bermain untuk merancang kreativitas, dan sarana olahraga. Pendidikan bisa dikatakan adil bagi saya, tidak melulu soal pendidikan yang gratis, namun bagaimana seorang anak bernama Omega Theisa di ujung papua membaca buku yang sama dengan entah itu Cut Siti di Aceh, Kadek di Bali, Bambang di Jawa, Andre di Jakarta, Andi di Sulawesi dan Sitorus di Sumatra. Lewat hutan Moswaren, anak-anak Teminabuan , kelas tanpa peta, saya selalu seperti ditampar, betapa tidak bertanggung jawabnya saya . Saya selalu punya kesempatan untuk bersekolah di tempat tempat terbaik, guru guru terbaik, dan fasilitas terbaik, namun tidak terhitung berapa kali saya bolos, tidak serius mengerjakan tugas, bahkan saya sibuk memaki sistem pendidikan yang saya jalani. Padahal dibelahan lain, ada banyak siswa siswa bersemangat yang harus belajar dengan keterbatasan, dan mereka tetap bersemangat. Berada di sana selama dua bulan telah membawa saya ke perenungan seumur hidup, bahwa sebagai generasi yang bisa menikmati pendidikan lebih baik saya dan anda memiliki kewajiban yang lebih berat, memastian bahwa ditahun–tahun ke depan tidak ada lagi kelas-kelas kosong tanpa peta, anak-anak yang harus menyeberangi sungai yang berbahaya untuk datang kesekolah, dan tentu saja sebuah SMA tanpa laboratorium fisika.

Ketika tulisan ini ditulis, saya sedang berada di penghujung tahun sekaligus penghujung karir saya sebagai mahasiswa strata satu. Saatnya saya dituntut untuk melakukan lompatan-lompatan lagi. Lompatan yang lebih tinggi. Saya terketuk untuk bekerja bagi pemerintah, namun saya juga tergoda untuk bekerja di perusahaanperusahaan asing yang tentu saja akan menawarkan gaji yang 5 kali lipat lebih tinggi dibandingkan pemerintah. Well, baiklah ini perjuangan saya nanti segera setelah lulus. Saya pasti akan sangat merindukan teman-teman tim KKN Sorsel, tim AIMUN, Awak Equilibrium, teman-teman di jurusan IE dan segalanya yang embbaded dengan kehidupan kampus. Tapi saya harus segela meninggalkan kampus ini, giliran kalian yang mengisinya. Nikmati dan pastikan Anies Baswedan benar. Mbakyumu, Marcella.

TENTANG PENULIS
MARCELLA CHANDRA WIJAYANTI merupakan mahasiswi pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis dengan jurusan Ilmu Ekonomi yang mana pada bulan Februari 2010 akan memperoleh gelar sarjana strata satunya.
Pada tahun 2007-2008, Marcella menjabat sebagai Kepala Departemen Intelektual HIMIESPA (Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi) UGM. Kecintaannya dan prestasinya pada dunia tulisan patut diacungi jempol, beberapa prestasinya antara lain Peringkat I pada KOMPAS Essay Competition pada tahun 2006 dan Peringkat III pada Annual English Essay Competition UGM pada tahun 2010. Kemampuan menulisnya ini membawanya terpilih untuk kemudian mewakili fakultasnya pada ASEAN Student Summit – Chulalongkorn University International Conference (CUIC) 2010 di Bangkok, Thailand. Tidak hanya kemampuan menulisnya, kemampuan risetnya membuat Marcella mendapatkan Research Grant for Students 2010 dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Sedangkan pada bulan Mei tahun 2008 sampai bulan Januari tahun 2010, Marcella terlibat sebagai project assistant pada Kajian Pemilihan Ekonomi Pasca Bencana Gempa Bumi DIY dan Jawa Tengah yang diselenggarakan di Yogyakarta oleh Fakultas Ekonomika dan Bisnis
UGM bekerjasama dengan Kementrian Koordinator Ekonomi Republik Indonesia. Lain dari hal-hal yang telah disebutkan di atas, pada tahun 2009, Marcella mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi pada Asian International Model United Nations di Beijing, Republik Rakyat China.

satu diantara puluhan tulisan dari orang-orang yang luar biasa.
kunjungi http://inspirasi.ugm.ac.id/baca.php

 
4 Comments

Posted by pada 3 Oktober 2011 in tulisan masa

 

Kaitkata:

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.