Ada yang mengeluh masalah, namun setelah mengeluh tak ada yang mampu diselesaikan, ketika mengeluh hanya sekedar sarana mengeluarkan kekesalan dan kekecewaan, namun tidak bisa diperdayakan untuk mendapatakan sebuah solusi. Boleh, mengeluhlah, sekedarnya. Berbuatlah semestinya dan semaksimal mungkin. Ada saat-saat mengeluh dan ada saat saat berbuat. Jangan sampai energi yang ada justru habis untuk pertemuan dengan segudang keluhan namun miskin ide untuk mengatasi keluhan-keluhan itu. Kalau begitu lebih baik jangan mengeluh, jika hanya untuk mengeluh. Jangan beri ruang untuk mengeluh, kadang kitapun jadi bingung ketika keluhan demi keluhan disampaikan, justru itulah yang membunuh ide, ketika hanya keluhan yang didengar. Sekarang katakan NO untuk keluhan, karena itu setiap bertemu jangan pancing untuk menanyakan apa yang terjadi saat ini tapi apa yang akan dilakukan berikutnya. Jangan tanyakan apa yang telah dilakukan karena kalau belum terlaksana pasti ujung-ujungnya keluhan maka tanyakan apa yang perlu dibantu dan berikan langkah kongkrit apa yang harus diperbuat. Bukankah kita sudah bosan dengan keluhan?
DS bukan Direct Selling lho..
, apalagi karena mo dekat pemilu saya milih membahas DS yang ini. Eits tunggu dulu, maksud saya DS yang satunya lagi, ada sesuatu yang lebih dekat dengan kita, yang membutuhkan perhatian khusus apa lagi kalau bukan Da’wah Sekolah
. ada hal menarik yang ditemukan setelah membahas berbagai keluhan tentang da’wah sekolah beberapa waktu lalu dengan Ust Burhan ( PJ Da’wah Sekolah Sumbar) kenapa menarik? Karena ujung-ujungnya kok jadi lucu y, pikir saya. Tapi, mungkin keluhan yang berujung kelucuan ini akan saya coba simpulkan kali ini. Ada beberapa point di antaranya :
pertama, da’wah itu kerja kolektif namun harus ada yang bersedia menjadi leader sebagai pengendali dan pengarah da’wah itu. ketika ada persoalan bersyukurlah punya leader yang tangguh, yang bersedia mencurahkan hidupnya untuk da’wah. dipertangguh dengan anggota yang militan. nah, jadi ketika ada yang bertanya (ini khusus tentang da’wah sekolah) kenapa kami kesulitan mencari pemateri untuk mengisi forum Annisa’ setiap minggu? maka yang ada akan muncul jawaban seperti ini “kita akan usahakan pemateri baik orang lokal maupun luar daerah, banyaknya SMA di kota payakumbuh (kota tempat tinggal saya) tidak sebanyak mesjidnya kan? kenapa mesjid bisa mendatangkan khatib jum’at setiap minggu? nah lho.. “
kedua, pertemuan untuk membahas da’wah sekolah sudah berkali-kali kita lakukan. tapi, tetap saja pertanyaan yang muncul diakhir pembahasan adalah persoalan yang sama ketika kita juga bermusyawarah beberapa waktu yang lalu. padahal sudah dijawab dengan sangat antusias. iya, saya bertanya untuk saat itu, kenapa pertanyaannya musti sama persis dengan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya? ada yang bilang, akar masalahnya dari pola kaderisasi, benar memang sangat benar. dan mungkin ditambah satu hal lagi yaitu kita tidak paham, duhai saudaraku berapa banyak orang tahu tapi tidak paham, karena sebuah pemahaman itu sangatlah berharga.. “rabbizidni ilman warzuqni fahman”
ketiga, kerja da’wah kita banyak. namun coba kita cicil sedikit demi sedikit kerja ini. sekali lagi, sudah cukup rasanya keluhan yang didengar, ayolah kawan jangan mengeluh lagi..
dengan segala ketidakmampuan, saya coba tuliskan. karena da’wah tidak butuh peluh satu orang, da’wah butuh partisipasi kita semua kawan..
wallahua’lam