Paperless #1

Potensi Shorea sp 10 Tahun Mendatang
oleh Melinda Purnamasari

Yippie.. dapat tugas membuat karangan dengan full imajinasi, he. Saya mendapatkan pohon bertagging 030, pohonnya sudah tumbuh setinggi saya. Pohon yang saya dapatkan yaitu dari family Dipterocarpaceae atau lebih dikenal dengan nama Meranti (Shorea sp). Seperti yang kita ketahui, meranti merupakan tanaman yang hidup didaerah tropis, Sumatera Barat merupakan salah satu daerah di Indonesia yang cocok untuk tumbuhnya meranti. Pohon meranti yang saya dapatkan ini berlokasi di seberang Halte Farmasi, tepatnya sebelah kanan ketika melewati jenjang sebelum menuju deretan kantor jurusan-jurusan di FMIPA Universitas Andalas. Beberapa meter berjarak dari pohon meranti ini, terdapat beberapa pohon yang umurnya diperkirakan sudah puluhan tahun, entah pohon apa saya kurang mengetahui, yang jelas diameter batangnya cukup besar dan permukaan batang tampak sudah ditumbuhi lumut, pertanda bahwa pohon tersubut sudah cukup tua berada disana. Hm, imajinasi saya mulai mengembara.. kira-kira pohon yang sedang saya ceritakan kali ini akan bertahankah sampai umur setua pohon didekatnya tadi? Semoga saja, sepuluh tahun mendatang saya sudah menemukan pohon meranti yang tumbuh menjulang puluhan meter..

Menyebut nama meranti, saya jadi ingat masa-masa SMA, sekolah saya beralamat di Jl. Meranti No. 21.. hehe, dulu bertanya-tanya seperti apa pohon meranti itu? Ooh.. ternyata pohonnya seperti ini.. *sekarang baru tahu yaa.. padahal kalau diingat-ingat tidak tumbuh satupun pohon meranti disekitaran pekarangan sekolah saya, pohon yang banyak tumbuh adalah pohon Flamboyant, akhirnya sekolah saya dikenal dengan sebutan kampus Flamboyant, terlepas dari hal itu semua, antara meranti dan flamboyant tidak ada hubungan apa-apa, setahu saya hubungan keduanya masih baik-baik saja, hehe. Anyway, setahu saya meranti ditanam untuk dimanfaatkan kayunya, biasanya setelah berumur 6-9 tahun, pohon meranti sudah tumbuh sekitar 50-100 meter dengan batang tanpa cabang sekitar 35 meter, woow.. oleh karena itu kayu meranti ini baik digunakan untuk perabot rumah atau bangunan.

Pada praktikum Nurturing Plant ini, kami ditugaskan untuk memikirkan rencana jangka panjang terhadap sebatang pohon. Tanaman Shorea sp menjadi tanaman yang harus saya fikirkan keadaan untuk 10 tahun mendatang. Kondisi tanaman tersebut hari ini telah tumbuh baik. Pastinya, dalam jangka sepuluh tahun mendatang tanaman ini tidak akan menjadi tempat favorit mahasiswa untuk bernaung dari terik matahari, dilihat dari struktur pohon yang memang tidak cocok untuk tempat berlindung. Dilihat dari tempat tumbuh pohon yang berada dilingkungan sekitar kampus, potensi pertama yang dimilikinya adalah sebagai sarana edukasi bagi mahasiswa. Saya memikirkan sebuah papan informasi yang memuat informasi lengkap tentang tumbuhan ini, diantaranya klasifikasi, manfaat, cara penanamannya, dan status konservasi . Hal ini didukung oleh letak pohon yang strategis diseberang halte yang merupakan lalu lintas mahasiswa.

Selain sebagai sarana edukasi mahasiswa khususnya mahasiswa biologi, pohon ini juga akan menjadi tempat bermainnya sekelompok amfibi, ketika sudah tumbuh besar, pohon meranti mempunyai akar banir, seperti yang kita tahu, populasi amfibi mudah ditemukan pada akar banir karena tempatnya yang lembab. Hal ini akan memungkinkan dalam memudahkan mahasiswa untuk mencari hewan objek sebagai bahan praktikum. Inilah pemanfaatan kedua, dimana pohon meranti menjadi tempat hidup dan berkembangnya populasi amfibi.

Saya berfikir, pohon ini akan lebih banyak manfaatnya ketika ditebang, karena secara naluriahnya pohon ini ditaman memang untuk diambil manfaat yang lebih besar dari produksi kayunya. Pernah suatu ketika, saya mengikuti pameran seni kriya dan sempat mewawancarai salah seorang senimannya, kebetulan bahan dasar yang dipakai semuanya bersumber dari kayu meranti ini. Sebatang pohon meranti dihargai jutaan rupiah, woow. Tidak mengherakan kebanyakan seniman kriya memanfaatkan kayu meranti sebagai bahan dasar karyanya, untuk hasil yang maksimal kualitas bahan baku tentu sangat mempengaruhi. Berbagai macam furniture rumah juga sangat banyak memanfaatkan meranti sebagai bahan dasar, seperti untuk pintu, tempat tidur, kunsen jendela, meja, kursi, tempat lampu, pajangan dan pernak-pernik perabot rumah tangga lainnya, harga yang tinggi sebanding dengan kualitas kayu yang didapatkan.

Memang sih, perkara menanam hingga tumbuh besar jauh lebih sulit dari pada menebang pohon dan lalu menjualnya. Sayapun masih menimang-nimang apakah pohon meranti yang tumbuh di seberang halte tersebut akan lebih banyak manfaat yang didapat ketika ditebang atau dibiarkan tumbuh seperti apa adanya. Pilihan lain yaitu membiarkannya tetap tumbuh namun dengan penambahan nilai guna tumbuhan tadi. Salah satu contoh penambahan nilai guna yang saya maksud diantaranya dapat berupa pemanfaatan pohon tersebut sebagai tempat melihat view kampus UNAND. Pertimbangannya sangat sesuai dengan tinggi pohon yang dapat mencapai 50-100 meter ketika sudah berusia 10 tahun. Tentu hal ini sangat menarik bukan? Ketimbang ditebang, saya lebih cendrung memanfaatkan tumbuhan meranti ini, mengingat hanya ada satu batang pohon saja, tentu pilihan menebangnya bukanlah pilihan bijak menurut saya. Pohon ini akan dilengkapi dengan tali pengaman dan jenjang untuk mencapai puncak pohon. Yah, bisa jadi ajang rekreasi dan sekaligus sarana edukasi untuk mahasiswa.

Pemanfaatan pohon meranti sebagai sarana rekreasi dan edukasi, tentu menuntut juga perkembangan faktor-faktor lainnya, seperti diantaranya penambahan lampu-lampu hias yang akan menambah eksotisnya suasana malam hari disekitaran pohon, selain itu pohon meranti ini juga sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai sarana digiscoping untuk mengamati burung, hal ini juga membantu menunjang perkuliahan nantinya. Nilai edukasi dan rekreasi dapat digabungkan untuk memudahkan mahasiswa dalam memahami materi perkuliahan, hal ini juga dapat membuat mahasiswa lebih rileks dalam menjalankan perkualiahan.

Potensi lain yang dapat dikembangkan untuk penambahan nilai guna dari pohon meranti ini yaitu dijadikan sebagai tower hotspot yang dapat menunjang keleluasaan mahasiswa dalam akses internet, mengingat masih minimnya fasilitas internet yang ada dikampus kita. Baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Pemanfaatan pohon meranti sebagai tower hotspot tentu akan sangat digandrungi mahasiswa. Didepannya akan dibuat lesehan untuk bisa berselonjor mengakses internet, dilengkapi dengan bak sampah, dan pesan-pesan konservasi yang dipajang disepanjang areal pohon meranti.

Pesan-pesan konservasi ini menjadi inti targetan utama agar mahasiswa care dengan kondisi bumi beserta isinya. Tingkat kunjungan mahasiswa ketempat dengan akses internet tentu tidak diragukan lagi, maka disanalah celah untuk menitipkan pesan-pesan konservasi yang secara tidak langsung akan dibaca oleh mahasiswa. Hal ini berdasarkan pengamatan saya, masih sedikitnya pesan-pesan konservasi yang disampaikan ditempat-tempat publik kampus, dimana tingkat intensitas mahasiswa berkunjung ketempat tersebut cukup banyak. Pesan-pesan yang bisa disampaikan diantaranya: tentang pentingnya menjaga dan memelihara lingkungan agar tetap asri (membuang sampah pada tempatnya, menjaga ekosistem sungai agar tidak tercemar oleh limbah, menjalankan prosedur yang aman bagi industri dalam pengeolahan limbah, menjaga terumbu karang sebagaimana yang kita ketahui terumbu karang di pantai Padang sudah rusak 80% nya, dll) dan tentunya mengajak pentingnya konservasi dengan slogan use it, study it and save it.

Dari sebuah pohon saja, saya bisa mengangankan banyak hal ya ternyata, hehe. Yah, setidaknya kemungkinan-kemungkinan diatas bisa saja terjadi untuk sepuluh tahun mendatang, walaupun dengan adanya pembaharuan disana sini. Jikalau difikirkan, nyatanya sebatang pohon dapat melahirkan inspirasi yang saaangaaat banyak, pohon yang akan tumbuh besar dan berkembang beberapa tahun mendatang, puluhan bahkan ratusan tahun lamanya, tentu saja melahirkan harapan-harapan bagi yang menanam dan merawatnya sedari kecil, paling minimal yaitu harapan agar pohon ini tetap eksis dan terus berkembang sehingga bisa dimanfaatkan oleh manusia lainnya. Hm, seperti manusia ya, alhamdulillah :)

3 pemikiran pada “Paperless #1

  1. Ajo.. beberapa daerah di Padang jg banyak yg nama tumbuh-tumbuhan. mungkin dulunya didaereh tsb memang banyak pohon merantinya :)

    Wassalam.. kak Aini.. okeee kak, diusahakan :)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s