Journey #1

Bismillah..
(note: sebuah catatan harian saja)

Saat itu, januari muncul dalam bilangan 20, sebuah tawaran datang. sejujurnya tawaran ini adalah hal yang sangat saya inginkan. tp, rasa-rasanya, tawaran (yang sangat saya inginkan) tersebut tidaklah pantas saya terima, berfikir untuk memberikan kepada orang lain yang menurut saya lebih pantas mendapatkannya. Euh, kenapa jd krisis PD begini ya?

huft.. deadlinenya tanggal 30 dibulan ini. sembari menghitung tanggal, sekarang sudah tanggal 25 januari, bersisa 5 hari lagi, cukupkah waktu?
bahan-bahan yang harus dilengkapi untuk tahap pertama belum semua saya kumpulkan, belum semua saya baca, belum lagi merangkainya secara sistematis. Tuhan, apakah saya akan membiarkan kesempatan berlalu lagi?

februari berlalu..

pada akhirnya, saya memilih untuk totalitas dalam mempersiapkan berkas-berkas, walaupun saya sadar dengan keterbatasan yang ada.

pas tes wawancara.. di bulan maret

segalanya menjadi tidak dalam prediksi, soal-soal yang ditanyakan, respon dan pembicaraan yang dilakukan. alhamdulillah, wawancara pertama berakhir dengan sukses dan lancar. sekarang, sesi wawancara dalam bahasa inggris :-|
karena tidak terbiasa praktek, walhasil walaupun pertanyaan dan jawaban yang saya berikan punya kolerasi positif, tapi.. saya awut-awutan dalam grammar, sadarnya setelah terucapkan, cara menjawab yang masih pake stuktur bahasa indonesia.. karena kenyataan yang demikian, alhamdulillah saya jadi dido’akan penguji :D , do’anya: semoga anda bisa tamat S1 dalam waktu 4 tahun, lanjut S2 hingga S3 ya..

*saya bersyukur dan berterimakasih telah disemangati dan di do’akan. kebetulan saya kenal pengujinya, dosen kimia tamatan S3 jerman, bapak Syukri Darajat.. tp bapak mungkin baru kenal nama saya ya, waktu itu ada perlu ke jurusan kimia, beliau yang menyapa duluan :D , memang beliau salah satu diantara beberapa dosen yang saya kenal, yang low profile sekali :)

namanya do’a ya, kalau tercapai alhamdulillah.. kalau engga semoga apa yang sudah diusahakan dan dicapai adalah garisan hidup terbaik dari Rabb, cita-cita kita syurga sob, jikalau Allah berkenan salah satu jalan menggapai syurga adalah dengan berkontribusi dalam ilmu pengetahuan, meraih gelar Prof kenapa tidak? haha, ngaco :D

kemudian, dapat bocoran dari dosen penguji yang kebetulan dari Biologi, saya kenak di IPK, diantara semua peserta IPK saya yang paling rendah, tapi tetap saya syukuri.. tidak bisa juara 1, alhamdulillah bisa juara 2.. mahasiswa berprestasi fakultas mipa 2012.. suatu goresan yang tidak pernah saya catat dalam targetan saya, tapi Allah punya rencana lain.

efeknya, beberapa minggu setelah menyelesaikan karya tulis tentang Diagnosis Penyakit dengan Teknik Dermatoglifi yang Cepat dan Berbiaya Murah, saya jadi suka cek telapak tangan orang-orang yang saya temui.
efeknya cuma beberapa minggu kok, sekarang engga lagi.. ^^

alhamdulillah..
beberapa hari menjelang UAS semester VI
menuju IPK sejahtera.. :D

-Syakuro, home values home-

Pasumpahan

saat kita letih berjalan, maka berlarilah
saat kita susah tersenyum, maka tertawalah

jangan hanya berharap, ketika suatu saat kesempatan itu Allah SWT berikan, kita (secara langsung atau tidak) malah menolaknya karena tidak siap..
..maka berjuanglah karena hidup ini keras kawan!

Allahummastajib du’aana ya mujibassailin..

Pulau Pasumpahan, 07-04-2012
disaat tawa kita begitu lepas
semoga setiap kesibukan bernilai ibadah :)

Paperless #5

Hutan Hujan Indonesia: Penyerap Emisi CO2?
Oleh: Melinda Purnamasari

Luar biasa. Indonesia punya hutan hujan tropis terluas ke-3 didunia, setelah Brazil dan Kongo. Seluas itu hutannya, tentu sangat signifikan pengaruh yang diberikan Indonesia terhadap perubahan iklim didunia. Salah satu pengaruh yang sedang marak diperbincangkan adalah persoalan perubahan iklim (climate change) yang mengakibatkan meningkatnya suhu dibumi karena emisi CO2 diatmosfer. Dalam lembar fakta yang terbitkan oleh WWF-Indonesia dituliskan luas hutan Indonesia (2003) yaitu 109 juta hektar, tapi hampir setengahnya terdegradasi. Hal ini menambah prestasi lainnya untuk Indonesia, yaitu juga menjadi negara ke-3 terbesar di dunia yang menyumbang peningkatan konsentrasi GRK (Gas Rumah Kaca) di atmosfer karena banyaknya hutan yang ditebang. Ah, sebegitu parahnya kah kondisi hutan Indonesia?

Indonesia dengan hutan yang luas, yang mempunyai potensi terbesar untuk menyerap emisi CO2 malah imbas menjadi negara ke-3 terbesar yang menyumbangkan peningkatan gas CO2 di atmosfer setelah Amerika Serikat dan Cina. Penyebab kalkulasi ini muncul tentu saja karena hutan yang ada tidak dijaga dan dikelola dengan baik. Salah satu penyebab terbesar peningkatan suhu dibumi adalah semakin parahnya kondisi hutan yang menjadi paru-paru dunia kita.

Kita tahu, hutan dengan seluruh kekayaan yang terkandung didalamnya, tidak hanya berpotensi untuk menyerap emisi CO2, hutan Indonesia adalah kekayaan yang tak ternilai, hutan dengan diversitas flora dan faunanya, sebagai sumber obat-obatan, kerajinan, dan untuk studi ilmu pengetahuan. Dari maraknya penggundulan hutan semenjak tahun 1970, saat ini diperkirakan hanya tinggal 28% hutan Indonesia, jika tindakan penggundulan hutan tidak segera dihentikan, maka hutan Indonesia akan musnah. Tahukah Anda laju kehilangan dan kerusakan hutan Indonesia dari tahun 2000-2005 setara dengan 364 lapangan bola/jam?

Kalau kondisi hutan Indonesia semakin parah, semakin tipis pulalah harapan potensi hutan hujan tropis yang melimpah keberadaannya di Indonesia sebagai penyerap karbon. Ketika para illegal logging masih leluasa melakukan aksinya, jangan biarkan kami berbangga dengan luasnya hutan Indonesia. Bagaimana?

Bagi saya, persoalan hutan Indonesia merupakan persoalan yang sederhana dengan konsekuensi yang sangat luar biasa. Dibutuhkan kepedulian kita semua untuk belajar mencintai warisan kekayaan alam kita, dengan mencintainya kita mampu lebih bersyukur dengan apa yang kita miliki. Menumbuhkan kesadaran untuk menjaga lingkungan, memelihara sumber daya alam, memanfaatkannya dengan baik dan optimal butuh keterlibatan semua pihak, butuh orang-orang yang mau berkonsentrasi menjadi duta lingkungan dimanapun mereka berada walaupun secara ‘legal’nya mereka bukanlah duta lingkungan hidup. Contoh kecil saja bagi kita yang membaca atau mengetahui permasalahan-permasalahan lingkungan, sampaikan dan ajarkan kepada orang-orang terdekat kita, sehingga merekapun menjadi peduli dengan isu-isu lingkungan.

Departemen Kehutanan Indonesia punya FRIS (Forest Resources Information System) yang akan menyediakan informasi menyeluruh dan terintegrasi menggambarkan kondisi kehutanan Indonesia yang akan menjadi landasan pengambil kebijakan yang tepat dalam pengelolaan hutan. Selain departemen kehutanan, lembaga independen yang juga menyediakan informasi hutan Indonesia yaitu FWI (Forest Watch Indonesia) yang terdiri dari orang-orang yang concern mewujudkan keterbukaan dalam pengelolaan data dan informasi kehutanan Indonesia. Nah, pemerintah dan masyarakat harus berkolaborasi untuk mewujudkan tujuan yaitu terciptanya pengelolaan hutan yang lestari.

Hutan Indonesia yang luasnya 109 juta hektar sangat berpotensi menjadi penyerap emisi gas rumah kaca dari berbagai aktivitas manusia, namun disisi lain ketika hutan Indonesia yang luas ini tidak dikelola dengan baik, maka hal tersebut juga akan mempercepat terjadinya pemanasan global. Oleh karena itu kawan-kawan, lakukan hal sederhana untuk menjaga lingkungan kita, menghemat pemakain kertas contohnya. Sebagian besar kegiatan akademik di jurusan saya (Biologi-Universitas Andalas) sudah menerapkan pemakaian kertas bekas dalam tugas-tugas praktikum yang diberikan. Saya saat ini telah duduk disemester VI, baru sekitar satu bulan yang lalu menghabiskan 1 rim kertas HVS selama saya menjadi mahasiswa :) , setidaknya program seperti ini perlu disebarluaskan, sebab pemakaian kertas terbanyak berasal dari kalangan akademisi. Tergerak untuk menirunya?

Jadi, hutan hujan tropis adalah kekayaan yang musti dijaga kelestariannya. Optimalkan pemanfaatannya (seperti contoh pemakaian kertas bekas yang dapat menghemat pemakaian kertas). Paling penting, dukung dan sebar luaskan isu penjagaan lingkungan didaerah tempat tinggalmu, sederhana saja. Kita mendapati alam yang dahulunya asri, akankah kita tidak juga akan mewarisi keasrian alam ini untuk anak cucu kita?

Pujian.. oh, Pujian..

Kalaupun harus melewati seorang diri
saya akan lakukan

Kalaupun harus menanggung beban sendiri
saya akan tanggung

Kadang dalam kondisi salah, tidak ada satupun yang pantas disalahkan,
jika ada banyak hal yang bisa disalahkan,
maka hal terbaik adalah tidak menyalahkan

Sesuatu yang tampak sederhana dipermukaan
kadang tidak sesederhana yang kita pikirkan,

Sesuatu yang tampak luar biasa,
barangkali hanya sesuatu yang biasa-biasa saja

Maka hentikan pujian,
hargai dengan seimbang
seperti hal nya kita belajar untuk berlapang dada dengan ujian.
Takutkah?

Disebutkan bahwa ada salah seorang laki-laki memberikan pujian kepada rekannya yang sedang berada di samping Rasulullah saw. Maka beliau bersabda, “Seandainya temanmu tadi itu sedang sekarat dalam keadaan ridha dengan pujian yang kamu sampaikan kepadanya, lantas dia meninggal dunia, maka dia akan masuk Neraka.” Dalam kesempatan lain Rasulullah saw pernah bersabda kepada para sahabat, “Ingatlah, janganlah kalian saling melontarkan pujian! Jika kalian melihat ada orang-orang yang memberikan pujian, maka taburkanlah pasir ke wajah mereka!” (Hr. Ahmad, Abu Dawud, at-Turmudzi).

Paperless #3

Kearifan Lokal (Local Wisdom) sebagai Sarana Pembentukan Karakter Masyarakat
Peduli Konservasi Sumber Daya Hayati

oleh Melinda Purnamasari

Local wisdom (kearifan lokal/setempat): dapat dipahami sebagai gagasan gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Adanya budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi dalam lingkup wilayah/suatu daerah, hal ini merupakan peluang untuk dapat menanamkan nilai-nilai pemeliharaan dan kepedulian akan kelestarian lingkungan hidup tempat masyarakat tersebut menetap, dimana nilai-nilai tersebut secara tidak langsung menjadi ciri khas dan membentuk karakter masyarakat yang peduli lingkungan.

Tidak dapat dipungkiri, dari banyaknya data yang memaparkan tingkat kerusakan sumber daya alam kita yang semakin meningkat, upaya konservasi sumber daya alam mulai mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah, contoh saja dari pelestarian hutan Indonesia yang merupakan paru-paru dunia, milyaran dana dialokasikan untuk menjaga agar hutan-hutan kita tetep terpelihara dengan baik, konverensi internasional pun menyepakati untuk membantu Indonesia dalam penjagaan hutan, karena satu hal tadi, Indonesia merupakan paru-paru dunia.

Tapi kemudian, muncul permasalahan. Upaya konservasi terkesan lambat, dikarenakan harus melalui regulasi yang butuh waktu lama, tidak bergerak ketika tidak ada perintah dan dana. Selain itu, tidak jarang juga ditemui konflik atas ketidaksenangan kelompok masyarakat ketika daerah tempat mereka hidup dan mencari penghidupan harus dikelola pihak luar/asing. Menurut hemat penulis upaya-upaya konservasi melalui kearifan lokal mempunyai ‘bargaining position’ yang kuat dan efektif untuk mewujudkan karakter masyarakat yang peduli lingkungan, melalui hal ini upaya-upaya konservasi secara langsung akan melibatkan tiga komponen utama, yakni: pemerintah sebagai fasilitator, peneliti/akademisi sebagai perencana/pengarah, dan masyarakat sebagai eksekutor.

Sebagai contoh, masyarakat dayak meratus (kalimantan timur) yang hidup pada kawasan hutan alami pegunungan meratus punya kearifan lokal dalam menjaga hutan. Mereka mengenal adanya katuan (hutan) larangan yang tidak boleh ditebang pohonnya, tidak boleh digunakan untuk bahuma (bertanam) tetapi dapat diambil hasil hutannya selain kayu.Menurut kepercayaan masyarakat disana, katuan larangan merupakan kawasan tempat bersemayam arwah leluruh mereka, sehingga kawasan ini tidak boleh dirusak. Bagi masyarakat dayak meratus, pengetahuan mengenai lahan yang boleh/tidak boleh dikelola merupakan suatu keharusan, agar tidak mendapatkan kutukan dari leluhur mereka. Dalam kepercayaan mereka, Jubata Duwata (tuhan) akan mengutuk manusia yang menghancurkan hutan, sehingga manusia dan hutan adalah satu kesatuan yang saling memberikan perlindungan.

Selain itu, pemanfaatan hutan dan isinya diatur dalam hukum adat yang disepakati bersama, juga dikenakan sanksi bagi yang melanggar.Bagi yang menebang pohon madu dikenakan sanksi 10-15 tahil (satu tahil setara dengan satu piring kaca yang jika dirupiahkan dihitung dengan kesepakatan bersama).Nanti sanksi diserahkan kepada damang (kepala adat).Terlihat pola yang sangat teratur, dimana masyarakatnya sangat mematuhi aturan adat, secara langsung menjaga keberlangsungan hidup masyarakat itu sendiri dan hidup lingkungan tempat mereka mencari penghidupan.Sebuah simbiosis mutualisme dimana manusia dan alam saling memberi dan menjaga.

Potensi pemanfaatan kearifan lokal masyarakat untuk menjaga sumber daya alam hayati patut mendapat perhatian yang serius. Walaupun tantangannya kedepan, seiring dengan perkembangan zaman, dapat terjadi perubahan cara pandang masyarakat dalam mengelola lingkungan alam nantinya, seperti pengaruh perkembangan teknologi yang tentunya akan berdampak signifikan baik cepat/lambat akan mempengaruhi cara fikir masyarakat. Bahwasanya kearifan lokal merupakan penerapan nilai-nilai pemeliharaan alam secara rasional dan mungkin nantinya tidak berlandasan mitos/kepercayaan magis belaka.

Arus globalisasi merupakan kenischayaan, bagaimana membuat kearifan lokal masyarakat tetap bertahan dan tidak kehilangan jati dirinya merupakan tantangan besar untuk kedepannya.Menurut hemat penulis, sudah sepatutnya nilai-nilai penjagaan lingkungan mampu tetap eksis ditengah pergeseran nilai saat ini, hal ini tentu tidak mengurangi eksisensi dari kearifan lokal (local wisdom) yang sudah dilaksanakan oleh masyarakat pada beberapa daerah di nusantara dalam rangka memanfaatkan dan menjaga alam.Sebab sejatinya kearifan lokal dapat tetap eksis karena nilai-nilai kebaikan yang terselip didalamnya, tidak hanya sekedar doktrin dari aliran agama, budaya, atau tradisi tertentu.

Didekat daerah tempat tinggal saya sekarang, dalam perjalanan pergi atau pulang dari kampus, saya selalu melewati sungai yang bertuliskan ‘ikan larangan’, masyarakat dilarang menangkap ikan sembarangan di sungai tersebut karena dipercaya akan mendapatkan malapetaka. Sebenarnya hal ini lebih kepada upaya menjaga agar ikan-ikan disungai tersebut tidak habis/punah, kalau difikir-fikir ini merupakan upaya konservasi terhadap ikan.Tapi, akhir-akhir ini dalam pengamatan saya, memang tidak ada masyarakat yang berani memancing bebas di sungai tersebut kecuali pada masa acara memancing bersama yang diadakan dikelurahan setempat.Banyak pemancing datang dari berbagai daerah untuk mengikuti perlombaan memancing yang diadakan pada waktu-waktu tertentu. Kalau difikir-fikir sih, tulisan yang berisi larangan memancing dengan slogan ‘ikan larangan’, lebih kepada pemanfaatan lokal wisdom masyarakat, dengan begitu ikan-ikan disungai tetap terjaga keberlangsungan hidupnya karena akan dipanen dalam waktu-waktu tertentu tadi. Sebuah pemanfaatan yang cerdas bukan?

Tapi, sejauh apa kearifan lokal mampu bertahan tentu sangat bergantung kepada kepedulian generasi pengganti. Oleh karena itu penanaman nilai-nilai pemeliharaan alam dapat dilakukan sedari usia belia. Contoh kecil saja, membuang sampah pada tempatnya, terutama sampah-sampah plastik yang membutuhkan waktu lama untuk bisa terurai, ketika sampah dibuang sembarangan, kemudian hujan membawanya hanyut kesungai, sesampai disungai dibawa arus menuju laut, sampah plastik dilaut kemudian dimakan oleh ubur-ubur, akibatnya banyak ubur-ubur yang mati. Secara tidak langsung ternyata kebiasaan membuang sampah sembarang dapat mengancam keberlangsungan hidup dari ubur-ubur, pemikiran yang sederhana bukan?

Contoh lain dari kearifan lokal yang berkembang seperti pada masyarakat jawa, dikenal istilah Pranoto Mongso, merupakan aturan waktu musim yang digunakan petani pedesaan untuk pengolahan pertanian berdasarkan naluri dari leluhurnya, tanda-tanda alam digunakan sehingga petani mampu bercocok tanam sesuai musim dan hal ini sama sekali tidak mengganggu keseimbangan alam karena pertani mengikuti pola dari alam untuk mengolah pertaniannya.

Di Sulawesi juga dikenal kearifan lokal masyarakat dalam menjaga ekosistem. Muncul larangan seperti: Aja’ muwababa huna nareko depa na’oto adake, aja’ to muwababa huna nareko matarata’ni manuke artinya “jangan memukul tandang buah enau pada saat dewan adatbelum bangun, jangan pula memukul tandang buah enau pada saat ayam sudah masukkandangnya” = “jangan menyadap enau di pagi hari dan jangan pula menyadap enau dipetang hari”.Hal tersebut merupakan himbauan untuk menjaga keseimbangan ekosistem, khususnyahewan dan burung, karena menyadap pohon enau pada pagi hari dikhawatirkan akanmengganggu ketentraman beberapa jenis satwa yang bersarang di pohon enau tersebut,demikian pula pada sore hari akan menggangu satwa yang akan kembali ke sarangnya. Sebuah kearifan dalam menjaga ekosistem..

Kedepannya, prospek kearifan lokal masyarakat sangat dipengaruhi oleh berbagai kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan sumber daya alam, dengan melibatkan masyarakat lokal secara langsung untuk pengelolaannya.Sejauh mana suatu kearifan lokal mampu dimanfaatkan secara cerdas untuk membentuk karakter masyarakat yang peduli lingkungan sehingga dihasilkannnya metoda pengelolaan lingkungan kawasan konservasi yang baik. Bagaimana menumbuhkan kesadaran masyarakat lokal tentang pentingnya menjaga dan mengelola sumber daya lingkungan secara bijak,.Selanjutnya, memeprtimbangkan manfaat yang didapatkan masyarakat dari upaya konservasi ini baik secara langsung atau tidak langsung, secara materi atau non-materi sehingga keberdaannnya mendatangkan keuntungan secara terus menerus.

Sebuah metode yang dinamai CBNRM (Community based nature resource management) atau Pendekatan Pengelolaan Sumberdaya Alam Berbasis Masyarakat merupakan strategi pengelolaan Sumberdaya Hayati (SDH) dimana masyarakat berpartisipasi secara aktif dan berperan dalam menanggulangi masalah yang mempengaruhi kondisi SDH, disini saya kutipkan beberapa pokok persoalan yang menjadi sasaran utama CBNRM yaitu 1) membuka akses bagi masyarakat (lokal) dan stakeholder lain terhadap informasi dan pengelolaan; 2) memberi peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup lewat pemanfaatan sumberdaya hayati yang tersedia sehingga mendorong mereka untuk terus mempertahankan keberadaannya; dan 3) penguatan posisi masyarakat dan stakeholder lain dalam proses-proses pembuatan kebijakan pemerintah yang terkait dengan pengelolaan sumberdaya alam.

Sepertinya hal diatas sudah mencakup analisis startegis pemanfaatan local wisdom secara efektif, semoga dengan begitu dapat mendatangkan kebaikan yang lebih banyak untuk pemeliharaan bumi beserta isinya. Untuk kita dan generasi kita dimasa depan, sudah selayaknya kita berbuat sesuatu walaupun perkara kecil saja, seperti membuang sampah pada tempatnya. Ayoo, konservasi! ;)

Cerita tentang Printer

Bismillah..
Senin lalu (13/02), dikarenakan urusan keluarga saya diminta untuk pulang kampung. Singkat cerita, sesampainya dirumah, mata saya tertuju pada seperangkat komputer beserta printer yang ‘nelangsa’ disudut ruangan. Apa boleh buat, perangkat elektronik yang kerap menemani saya ketika masih di kampung dulu, menjadi terlantar begitu saja, tidak ada yg merawat apalagi setelah ‘penyakit’ yang dideritanya.. mouse nya tidak bisa digerakkan dan printernya tidak bisa digunakan. Berhubung selama pulang kampung tidak sempat mengulik-nguliknya, kesempatan pulang kampung yang tidak terjadwal beberapa hari yang lalu membuat saya membulatkan tekad untuk mendekati dan menanyakan kabarnya *emang manusia ya :P . upaya pertama yang dilakukan yaitu mendiagnosis kelainana apa yang diderita si kompi, mousenya tidak bisa digerakkan karena apa? Printernya tidak bisa jalan karena apa?

Setelah bertanya dengan konsultan yang baik hati, jawaban yang diberikan ‘mungkin mousenya rusak’, oke kesimpulan sementara mousenya rusak. Anehnya pada malam itu saya sama sekali tak berfikir kalau printer tersebut macet :D lebih tepatnya saya lupa kalau printer tersebut macet.. *hadooh, parah iki yo. Akhirnya, pada malam itu saya memutuskan untuk membersihkan body printernya yang sudah lama memikul debu-debu dipundak.. dan memutuskan untuk membawa printer tersebut ke Padang, mengingat manfaatnya yang lebih besar ketimbang dibiarkan dirumah. Berhubung master CD untuk printer HP Deskjet berseri D1360 ini tak tahu entah kemana rimbanya, sementara untuk mengcopy master dari kompi, komputerpun mousenya tak mau digerakkan.. akhirnya terpikirkan untuk mendownload saja masternya nanti setelah sampai di Padang.

Sesampai di Padang.. yep.. yep.. download master dan printerpun bisa digunakan.. *berharap dengan mata berbinar-binar*. Ternyata download master itu lamanya minta ampuuun ya, apalagi dengan kualitas internet yang sedang-sedang saja.. malam-malam bermodal paket unlimited telkomsel, saya download juga masternya, tentunya dengan bertanya-tanya dulu. Akhirnya, pada hari kedua usaha mendownloadpun selesai dan mulailah saya menghubung-hubungkan printer dengan laptop.. tes-tes.. ee.. lampunya kedip-kedip hijau.. dimatikan emoh.. *mulai mikir ini printer kenapa? Dan mulai pulalah saya bertanya kemana-mana, melayangkan sms ke beberapa orang yang dianggap mahir soal ini. Ajaibnya, saya baru ingat kalau printer ini memang tidak digunakan setelah 3tahun lamanya karena penyakitnya ini :D *duh, apes bawa printer rusak ke Padang.. hihi.

Ya sudahlah, satu-satunya usaha yaitu mengusahakan agar printer ini bisa digunakan.. saya mulai membaca petunjuk pada HP Solution Center, namun tidak memuaskan, saya sudah coba tips yang diberikan tapi sang printer masih saja ngambek.. kemudian diagnosis pun dilancarkan.. kemungkinan pertama, printer ini tak ada tinta (tapi tidak ada tinta kok printernya ndak jalan ya?), ah.. ga tau deh beli aja tinta mel, trus lu suntikin deh tu printer, mana tau setelah disuntik si printer jadi sehat ^^. jangan lupa, sebelum mengisi tinta, rendam bawah cartridge di air suam-suam kuku mengingat mungkin saja printermu macet karena tintanya kering kan. Nah, selesai deh saya keluarkan tinta yang sudah mengendap bertahun-tahun didalam printer.. setelah diisi dengan tinta baru sekitar 7-10 cc, hasilnya tetap sama, tidak bisa.. hoho.

Berhubung saya cuma punya persediaan untuk tinta hitam, akhirnya entah kenapa dan mengapa muncul saja insting untuk membuka cartridge tinta warnanya. Mana tau kan tu printer ga jalan karena cartridge kawannya ga dapet asupan nutrisi, yah kecemburuan sosial diantara cartridge dapat membuat printermu tidak jalan.. :P . benar-benar diagnosis yang tidak ilmiah.. tapi toh akhirnya.. akhirnya.. sang printerpun tidak ngambek lagi.. *horeee, padahal tips untuk membuka cartridge tidak ada dimuat pada HP Solution Center, hehe. Alhamdulillah.. printernya bisa dimanfaatkan kembali setelah bertahun-tahun terlantar begitu saja.. semoga hadirmu banyak membantu saja yah printer.. :)
walaupun hidup dengan satu ginjal.. eh maksud saya satu cartridge.. hehe

Padang, pagi jum’at yang berokah..

Paperless #1

Potensi Shorea sp 10 Tahun Mendatang
oleh Melinda Purnamasari

Yippie.. dapat tugas membuat karangan dengan full imajinasi, he. Saya mendapatkan pohon bertagging 030, pohonnya sudah tumbuh setinggi saya. Pohon yang saya dapatkan yaitu dari family Dipterocarpaceae atau lebih dikenal dengan nama Meranti (Shorea sp). Seperti yang kita ketahui, meranti merupakan tanaman yang hidup didaerah tropis, Sumatera Barat merupakan salah satu daerah di Indonesia yang cocok untuk tumbuhnya meranti. Pohon meranti yang saya dapatkan ini berlokasi di seberang Halte Farmasi, tepatnya sebelah kanan ketika melewati jenjang sebelum menuju deretan kantor jurusan-jurusan di FMIPA Universitas Andalas. Beberapa meter berjarak dari pohon meranti ini, terdapat beberapa pohon yang umurnya diperkirakan sudah puluhan tahun, entah pohon apa saya kurang mengetahui, yang jelas diameter batangnya cukup besar dan permukaan batang tampak sudah ditumbuhi lumut, pertanda bahwa pohon tersubut sudah cukup tua berada disana. Hm, imajinasi saya mulai mengembara.. kira-kira pohon yang sedang saya ceritakan kali ini akan bertahankah sampai umur setua pohon didekatnya tadi? Semoga saja, sepuluh tahun mendatang saya sudah menemukan pohon meranti yang tumbuh menjulang puluhan meter..

Menyebut nama meranti, saya jadi ingat masa-masa SMA, sekolah saya beralamat di Jl. Meranti No. 21.. hehe, dulu bertanya-tanya seperti apa pohon meranti itu? Ooh.. ternyata pohonnya seperti ini.. *sekarang baru tahu yaa.. padahal kalau diingat-ingat tidak tumbuh satupun pohon meranti disekitaran pekarangan sekolah saya, pohon yang banyak tumbuh adalah pohon Flamboyant, akhirnya sekolah saya dikenal dengan sebutan kampus Flamboyant, terlepas dari hal itu semua, antara meranti dan flamboyant tidak ada hubungan apa-apa, setahu saya hubungan keduanya masih baik-baik saja, hehe. Anyway, setahu saya meranti ditanam untuk dimanfaatkan kayunya, biasanya setelah berumur 6-9 tahun, pohon meranti sudah tumbuh sekitar 50-100 meter dengan batang tanpa cabang sekitar 35 meter, woow.. oleh karena itu kayu meranti ini baik digunakan untuk perabot rumah atau bangunan.

Pada praktikum Nurturing Plant ini, kami ditugaskan untuk memikirkan rencana jangka panjang terhadap sebatang pohon. Tanaman Shorea sp menjadi tanaman yang harus saya fikirkan keadaan untuk 10 tahun mendatang. Kondisi tanaman tersebut hari ini telah tumbuh baik. Pastinya, dalam jangka sepuluh tahun mendatang tanaman ini tidak akan menjadi tempat favorit mahasiswa untuk bernaung dari terik matahari, dilihat dari struktur pohon yang memang tidak cocok untuk tempat berlindung. Dilihat dari tempat tumbuh pohon yang berada dilingkungan sekitar kampus, potensi pertama yang dimilikinya adalah sebagai sarana edukasi bagi mahasiswa. Saya memikirkan sebuah papan informasi yang memuat informasi lengkap tentang tumbuhan ini, diantaranya klasifikasi, manfaat, cara penanamannya, dan status konservasi . Hal ini didukung oleh letak pohon yang strategis diseberang halte yang merupakan lalu lintas mahasiswa.

Selain sebagai sarana edukasi mahasiswa khususnya mahasiswa biologi, pohon ini juga akan menjadi tempat bermainnya sekelompok amfibi, ketika sudah tumbuh besar, pohon meranti mempunyai akar banir, seperti yang kita tahu, populasi amfibi mudah ditemukan pada akar banir karena tempatnya yang lembab. Hal ini akan memungkinkan dalam memudahkan mahasiswa untuk mencari hewan objek sebagai bahan praktikum. Inilah pemanfaatan kedua, dimana pohon meranti menjadi tempat hidup dan berkembangnya populasi amfibi.

Saya berfikir, pohon ini akan lebih banyak manfaatnya ketika ditebang, karena secara naluriahnya pohon ini ditaman memang untuk diambil manfaat yang lebih besar dari produksi kayunya. Pernah suatu ketika, saya mengikuti pameran seni kriya dan sempat mewawancarai salah seorang senimannya, kebetulan bahan dasar yang dipakai semuanya bersumber dari kayu meranti ini. Sebatang pohon meranti dihargai jutaan rupiah, woow. Tidak mengherakan kebanyakan seniman kriya memanfaatkan kayu meranti sebagai bahan dasar karyanya, untuk hasil yang maksimal kualitas bahan baku tentu sangat mempengaruhi. Berbagai macam furniture rumah juga sangat banyak memanfaatkan meranti sebagai bahan dasar, seperti untuk pintu, tempat tidur, kunsen jendela, meja, kursi, tempat lampu, pajangan dan pernak-pernik perabot rumah tangga lainnya, harga yang tinggi sebanding dengan kualitas kayu yang didapatkan.

Memang sih, perkara menanam hingga tumbuh besar jauh lebih sulit dari pada menebang pohon dan lalu menjualnya. Sayapun masih menimang-nimang apakah pohon meranti yang tumbuh di seberang halte tersebut akan lebih banyak manfaat yang didapat ketika ditebang atau dibiarkan tumbuh seperti apa adanya. Pilihan lain yaitu membiarkannya tetap tumbuh namun dengan penambahan nilai guna tumbuhan tadi. Salah satu contoh penambahan nilai guna yang saya maksud diantaranya dapat berupa pemanfaatan pohon tersebut sebagai tempat melihat view kampus UNAND. Pertimbangannya sangat sesuai dengan tinggi pohon yang dapat mencapai 50-100 meter ketika sudah berusia 10 tahun. Tentu hal ini sangat menarik bukan? Ketimbang ditebang, saya lebih cendrung memanfaatkan tumbuhan meranti ini, mengingat hanya ada satu batang pohon saja, tentu pilihan menebangnya bukanlah pilihan bijak menurut saya. Pohon ini akan dilengkapi dengan tali pengaman dan jenjang untuk mencapai puncak pohon. Yah, bisa jadi ajang rekreasi dan sekaligus sarana edukasi untuk mahasiswa.

Pemanfaatan pohon meranti sebagai sarana rekreasi dan edukasi, tentu menuntut juga perkembangan faktor-faktor lainnya, seperti diantaranya penambahan lampu-lampu hias yang akan menambah eksotisnya suasana malam hari disekitaran pohon, selain itu pohon meranti ini juga sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai sarana digiscoping untuk mengamati burung, hal ini juga membantu menunjang perkuliahan nantinya. Nilai edukasi dan rekreasi dapat digabungkan untuk memudahkan mahasiswa dalam memahami materi perkuliahan, hal ini juga dapat membuat mahasiswa lebih rileks dalam menjalankan perkualiahan.

Potensi lain yang dapat dikembangkan untuk penambahan nilai guna dari pohon meranti ini yaitu dijadikan sebagai tower hotspot yang dapat menunjang keleluasaan mahasiswa dalam akses internet, mengingat masih minimnya fasilitas internet yang ada dikampus kita. Baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Pemanfaatan pohon meranti sebagai tower hotspot tentu akan sangat digandrungi mahasiswa. Didepannya akan dibuat lesehan untuk bisa berselonjor mengakses internet, dilengkapi dengan bak sampah, dan pesan-pesan konservasi yang dipajang disepanjang areal pohon meranti.

Pesan-pesan konservasi ini menjadi inti targetan utama agar mahasiswa care dengan kondisi bumi beserta isinya. Tingkat kunjungan mahasiswa ketempat dengan akses internet tentu tidak diragukan lagi, maka disanalah celah untuk menitipkan pesan-pesan konservasi yang secara tidak langsung akan dibaca oleh mahasiswa. Hal ini berdasarkan pengamatan saya, masih sedikitnya pesan-pesan konservasi yang disampaikan ditempat-tempat publik kampus, dimana tingkat intensitas mahasiswa berkunjung ketempat tersebut cukup banyak. Pesan-pesan yang bisa disampaikan diantaranya: tentang pentingnya menjaga dan memelihara lingkungan agar tetap asri (membuang sampah pada tempatnya, menjaga ekosistem sungai agar tidak tercemar oleh limbah, menjalankan prosedur yang aman bagi industri dalam pengeolahan limbah, menjaga terumbu karang sebagaimana yang kita ketahui terumbu karang di pantai Padang sudah rusak 80% nya, dll) dan tentunya mengajak pentingnya konservasi dengan slogan use it, study it and save it.

Dari sebuah pohon saja, saya bisa mengangankan banyak hal ya ternyata, hehe. Yah, setidaknya kemungkinan-kemungkinan diatas bisa saja terjadi untuk sepuluh tahun mendatang, walaupun dengan adanya pembaharuan disana sini. Jikalau difikirkan, nyatanya sebatang pohon dapat melahirkan inspirasi yang saaangaaat banyak, pohon yang akan tumbuh besar dan berkembang beberapa tahun mendatang, puluhan bahkan ratusan tahun lamanya, tentu saja melahirkan harapan-harapan bagi yang menanam dan merawatnya sedari kecil, paling minimal yaitu harapan agar pohon ini tetap eksis dan terus berkembang sehingga bisa dimanfaatkan oleh manusia lainnya. Hm, seperti manusia ya, alhamdulillah :)

Berpesanlah kamu..

Pesan berpesanlah kamu.
seringkali kita salah dalam berlogika.
ketika memang medan bicara tidak semudah medan amal, akankah karena itu Akhy/Ukhty tidak menyampaikan kebaikan?
kita seharusnya memang takut dengan besarnya kebencian Allah terhadap orang yang mengatakan tapi tidak mengerjakan.. tapi, bukankah konteks kalimat ini bertujuan agar kita mampu merealisasikan setiap hal yang sudah kita ucapkan?
kalau Akhy/Ukhty mengurungkan untuk menyampaikan suatu kebenaran lantaran ayat diatas, coba pikirkan lagi.. bukankah itu artinya Akhy/Ukhty belum punya kebulatan hati untuk mau mengupayakan sekuat tenaga hal yang sudah Akhy/Ukhty ketahui kebenarannya?

Pesan berpesanlah kamu.
Ukhty.. jilbab dengan corak warnanya yang indah atau modelnya yang nyaman tentu sangat memanjakan kita. ah, ana paham sekali :)
Ukhty tampak cantik dan anggun mengenakan jilbab itu. tampak sangat bersahaja.. ana berdo’a semoga Allah menjaga diri kita, menjaga jilbab kita, dengan begitu Allah juga menjaga kita dari kesalahan yang tidak kita sadari. pada awalnya kita mengenal jilbab sebagai sebuah perintah/kewajiban, semoga demikian juga sampai pada akhirnya. semoga niat kita hari demi hari tidak bergeser kepada selain dari niatan tersebut.

pesan berpesanlah kamu.
berpesan untuk mengingatkan yang lupa..
berpesan untuk menjauhkan prasangka..
berpesan untuk kebahagiaan,
untuk kebaikan yang lebih banyak..
semoga Allah selalu memperbaiki niat dan cara kita berpesan.

Padang, 5 Februari 2012

T.K > Agus 2012

Bismillah..

Suatu malam, melaui group di sebuah situs jejaring sosial, seorang dosen menginfokan surat edaran dari dikti, tanggal surat tertera 27 Januari 2012, ini berarti infonya masih baru. lalu apa gerangan isi suratnya? berikut saya kutipkan bagian intinya:

mulai kelulusan setelah Agustus 2012 diberlakukan ketentuan sebagai berikut:
1. Untuk lulus program sarjana harus menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah
2. Untuk lulus program magister harus telah menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah nasional diutamakan yang terakreditasi dikti
3. Untuk lulus program doctor harus telah menghasilkan makalah yang diterima untuk terbit pada jurnal internasional

nah, kalau berencana lulus setelah Agustus 2012, berarti ketentuan ini berlaku untuk Anda :)
*yang pastinya berlaku untuk saya ya*

entomologi ilmu serangga,
istilah lainnya heksapoda,

kalau mau jadi sarjana,
jangan hanya asal kuliah ajaa.

heksa berarti enam poda berarti kaki,
tapi ada juga serangga punya delapan kaki,

ayo berjanji
selain rajin mengaji, peduli, dan rendah hati
ipk mu harus tinggi
point SAPS mu bergengsi
semoga dapet ya Ridho Illahi :)

Salam untuk mahasiswa, jika yg kebetulan baca tulisan saya sedang nyusun skripsi, saya do’akan semoga Allah swt memperlancar, mempermudah dalam pengerjaannya.
jikalau masih mahasiswa seperti saya, tingkat 3 yang mau tingkat empat.. mari bersemangat! suatu saat, setiap orang yang mengenal kita, berinteraksi dengan kita, mereka semua dapat merasakan manfaat.. dari kehadiran kita ditengah-tengah mereka ;)

peraturan seperti ini dibuat tujuannya untuk kebaikan bersama, mengingat publikasi ilmiah mahasiswa indonesia masih tergolong sangat rendah. oke, semoga usaha pemerintah berbuah manis.. :)

..Padang, suatu sore di awal bulan februari
*T.K = Tamat Kuliah

Just try, do you?

bismillah..

beberapa waktu yang lalu, saya mengirimkan email ke mas Danang Ambar Prabowo. ah, saya yakin, hampir semua orang mengenal beliau, video motivasi 100 mimpi sangat menggemparkan dan sangat menginspirasi, sebab 100 mimpi itu sudah beliau wujudkan satu persatu. saya penasaran dengan IPK beliau saat menjadi Mahasiswa Berprestasi Terbaik 1 Nasional th 2007. tak disangka, beberapa jam setelah saya mengirim email, beliau langsung merespon, berikut jawaban mas Danang via email :)

Waalaikumussalam wr. wb.

IPK saya waktu itu 3.30 saat menjadi mawapres IPB dan Nasional. Rekan2 saya yang menjadi kompetitor saya punya IPK yang rata2 lebih bagus (paling tinggi waktu itu 3.90 kalo ga salah).

Di tingkat nasional juga ada dari 15 finalis terbaik yang punya IPK 2.98 kalo ga salah (IPK paling tinggi waktu itu ada yang 4.00). IPK menjadi salah satu syarat penting saja, tapi di luar IPK ada banyak sekali penilaian yang tak kalah pentingnya, misal jika Anda punya prestasi tingkat nasional/internasional atau punya pengalaman organisasi yang skalanya nasional/internasional, maka itu akan jadi poin yang sangat tinggi.

Selain itu juga ada poin penilaian karakter dll. Jadi IPK hanyalah salah satu point penilaian awal saja.

Berani mencoba dan lebih berani lagi menghadapi kegagalan.
Lebih baik gagal karena sudah berusaha dan mencoba, daripada gagal untuk mencoba.

Good luck :)

Wassalamualaikum wr. wb.

Danang Ambar Prabowo

Suda’s Laboratory of Algae Taxonomy and Phylogeny
Okinawa International Marine Science Program (OIMAP)
Graduate School of Engineering and Science, Faculty of Science
University of The Ryukyus, Okinawa-Japan

oke,
bagi yang ingin berkomunikasi langsung dengan beliau. beliau bisa dikontak via email danang_ap7@yahoo.co.uk :)

meneguk ilmu laksana meminum air
air yang semakin dekat ke mata air, semakin manis

-Melinda Purnamasari-

*mengenai judul, betulkan jikalau salah :D
maksud yang ingin disampaikan ‘hanya mencoba, kan?’