Mengisahkan bisa jadi tak sesulit Mengungkapkan
Sudah lama mushala di kompleks rumahku tidak aktif seperti biasanya. Karena garin (penjaga mesjid) yang biasanya bekerja disana, sudah pulang kampung. 2 hari yang lalu, mulai tampak aktifitas lagi, adzan yang biasanya tidak 5 kali sehari, sekarang sudah kembali lazim seperti biasanya. Usut punya usut, ternyata pengurus mesjid telah mendapatkan garin baru. Alhamdulillah, sekarang keadaan terasa lebih baik lagi. Adzan magrib berkumandang, ketika itu aku tengah terlarut dalam buku “setengah isi setengah kosong” dengan mengagumi setiap kisah, betapa banyaknya hal – hal baru yang didapatatkan setelah membacanya. Adzan telah usai, setelah sampai pada baris terakhir alinea terakhir salah satu bab, akupun bersegera memenuhi panggilan Tuhanku. Berwudhu dan bersegera menuju mesjid. Ah, sial ternyata sudah rakaat kedua, padahal aku rasa aku tidaklah begitu terlambat (baca : pembelaan). Tampak empat orang jama’ah perempuan yang hadir termasuk didalamnya seorang anak kecil yang tampak khusyuk sholat sendirian di pojok kiri mushola, kuputuskan menambah shaf di pojok kanan atas
Setelah selesai sholat, salam kanan dan salam kiri……. Glek! Aku terpesona.. sampai untuk beberapa detik kemudian, aku tengah terpesona dengan apa yang aku lihat. Ada sebuah palu gedhe yang sekarang tengah menghancurkan tembok keangkuhan hatiku, merembeskan hawa kesejukan dalam setiap persendianku, mengingatkanku tentang kesalahan apa saja yang baru kuperbuat, sepersekian menit aku tengah bermuhasabah. mungkin ini yang disebut pesona seorang calon penghuni syorga. Tidakkah sebutan ini sesuatu yang berlebihan? Semoga tidak. Sesampai dirumah, seraknya suaraku dikalahkan oleh derasnya hujan yang turun kala itu..
Special untuk seorang ibu atau mungkin lebih pantas kusebut ia seorang nenek, karena aku mungkin saja seumuran dengan cucunya. Terimakasih atas nasehat yang tak pernah engkau katakan…









